Jumat, 11 Agustus 2017

Teologi Iqro'



Derita "KOMA" berkepanjangan: Kader dalam cengkraman ilusinasi
Oleh: immawan Muhammad Nursalam
(Ketua Bidang Kader Pikom IMM FKIP)


Sejarah adalah kata sederhana yang syarat akan makna, padat namun memiliki arti yang luas. Sejarah bukanlah untaian kenangan yang kosong. Sejarah adalah pembelajaran yang menentukan arah transformasi kita kedepan. Kalau hari ini saja kita sudah berani melupakan sejarah, akan jadi bangsa ini kedepan. Tidak bisa di pungkiri bahwa sejarah bukan penentu mutlak masa depan, namun peran sejarah sedikit lebihnya mampu menyadarkan kepada kita tentang apa yang harus kita lakukan demgan pengalaman empirik yg dilalui. Apakah dirimu tak berpikir jikalau anda melupakan sejarah akan ada aktor yang akan memanipulasi goresan keemasan yang pernah di ukir dan di ganti dengan mencengkol sejarah baru yang penuh dengan konspirasi dan pendustaan. Bukan hal yang asing lagi kalau kita uarikan persoalan hegemoni, intervensi dan propaganda, beberapa itu begitu familiar di telinga kita yang kian pasti akan terkubur ibarat ikan gabus dalam gumpalan lumpur yang sudah mengering.
Di saat masyarakat Indonesia mulai kehilangan alasan untuk mencintai negaranya (Nasionalisme) karena banyaknya aktifitas sosial yg kian lama semakin mencekram para kaum marjinal, korupsi, kolusi, polusi, dan nepotisme menjadi hiasan kehidupan, sehingga sadar atau tidak sadar suara perlawanan semakin bergema tanda adanya sebuah gerakan. Adanya inisiatif dengan muncul seruan-seruan yang ‘membangunkan’ rakyat yang lesu agar bangun, sadar, dan mau bergerak dalam keadaan yang terjadi disekitarnya.
Berawal dari sensasi berbeda saat menyanyikan lagu indonesia raya akan berdampak bagaimana kita mampu menginterprearasikan jiwa-jiwa patriot dan nasionalis dalam berbangsa. Sorakan dari sudut stadion akan berbeda dengan sorakan lagu di medan perang dan tempat upacara yang kian lama semakin hilang dari esensinya sebagai syair pembangkit semangat dalam merefrlesikan perjuangan para pejuang kala itu. Begitu pula jikalau kita tarik dalam konteks kepemimpinan dalam ikatan, Sensani dalam menerjemahkan identitas kader semakin pupus tanpa adanya sebuah tindakan. Langit yang dulunya cerah tanpa awan, pemandangan yang menyejukan hati sekarang hnya sebatas angan angan. Jikalau kita pandang langit penuh dengan debu, jikalau kita lihat awan begitu hitam pekat tanda bobroknya kehiupan dunia. Jikalau pandang bumi akan terlihat bagaimana bumi penuh duka dan kebencian yg tentunya jikalau sekarang anda melihat bunga, hampir bisa dibayangkan semua layu pertanda hilangnya esensi dan eksistensi kehidupan. Maka apalagi yang bisa kita harapkan, tidak ada kesenangan, yang ada yang lawan dan perlawanan. Tidak ada lagi kedamaian, yang ada hanya pertumpahan darah yg mengalir tanpa arah.
Identitas kader dalam ikatan adalah suatu keniscayaan, tindakan dan pergerakan adalah suatu hal yanh mutlak tuk kita jalani. Jangan heran bila hari ini identitas sebagai seorang kader perlu kita pertanyakan kembali. Mengapa tidak, sifat militansi, integritas dan progresifitas kader kian hilang ditelan masa.
Langit merona merah jingga, Membentang luas sepanjang sudut Cakrawala.
Kader yang dulu pro aktif dalam menyuarakan keadilan dan kesejahteraan pupus hanya karena terkubur dalam dunia nyamannya. Sifat komsumtif dan kaku menjadi pajangan dalam karir yang sedang mereka jalani, mereka takut untuk berkorban, harta, tenaga lebih mereka arahkan untuk mencapai kepentingan partikularnya di banding kepentingan bersama. Hari ini, sorot sang fajar tak hanya memuram di timur, tapi dia menjamur disepanjang bangunan.
Potret hari ini menunjukan tombak peradaban bernama akademisi islam itu kini kian rapuh. Musuh terbesar gerakan mahasiswa hari ini adalah apatisme, entah itu mereka yang memang apatis, atau mereka yang memilih untuk apatis. Invasi globalisasi dan hedonisme kian hari semakin menggerogoti tubuh dan pikiran mahasiswa.
Dari situlah muncul keinginan dalam diri kita untuk sama sama menjadi salah seorang yang aktif mempromosikan sisi positif dari mahasiswa lebih khususnya kader di mata kampus dan masyarakat, khususnya generasi muda yg lalai dari tanggung jawabnya sebagai creator of change.
Kader harus mampu ikut andil dalam menjalankan tugas mulianya dalam kondisi akselerasi zaman yang semakin mencekam pergerakan mahasiswa, sehingga bukan hanya sekedar wacana dan pintar beretorika saja, namun perlu namanya tindakan praksis sebagai bentuk manifestasi integritas yang dimiliki. Selanjutnya, kader harus mengekplorasi potensi yang mereka miliki, karya demi karya harus ia telurkan. Antara lain dengan cara melestarikan budaya literasi, mulai membaca, diskusi hingga menulis berdasar gagasan yang dilmiliki. Bukankah peradaban lahir karena bacaan, sehingga betul yang sering di sampaikan oleh Ketua Umum PIKOM IMM FKIP yang menyatakan bahwa "Dikala kita sendiri kita membaca, dikala kita berdua kita berdiskusi dan dikala kita bertiga kita beraksi"( Muh. S'yaban).
Fenomena Alam telah menggambarkan kepada kita masalah-masalah yang konterporer ini terjadi, sehingga hutan mengajarkan kepada kita bagaimana harus hidup dalam kegelapan. Pesan untuk anda para tombak peradaban, ukirlah sejarahmu dengan cara yang bijak. Goreskanlah penamu di atas kertas putih yang berisikan kebaikan dan kebenaran. Tidak akan ada perubahan dan kemajuan tanpa adanya suatu pengorbanan. Hari ini anda punya hak dan wewenang untuk mengukir sejarahmu, tujuan mu didepan bukan samping atau diblakang. Jadi manfaatkanlah kesempatan yang telah diberikan, karena waktu mu terlalu singkat untuk dapat berekspresi. 

Tunjukanlah Ekspresi terbaikmu
Salam Semangat Juang

Makassar, 11 Agustus 2017 M
#My Hijrah My Adventure

3 komentar:

  1. Kalianlah yang akan melanjutkan dinda,
    Buatlah sejarah kalian selama kalian masih bisa berwkspresi di ikatan.
    Periode ta terlalu singkat utk bnyak berekspresi

    BalasHapus

TUHAN! Kami Tidak Butuh Popularitas

Oleh IMMawan Muhammad Nursalam ( Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar) Diam bukan berarti mati, bergerak belum tentu ...