Senin, 12 Februari 2018

TUHAN! Kami Tidak Butuh Popularitas





Oleh IMMawan Muhammad Nursalam
(Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar)

Diam bukan berarti mati, bergerak belum tentu maju. Katakanlah inilah Aku yang sebenarnya.
                                                                                   
Sengaja berdiam dalam penjara literasi tidak menjadikan kita kaku dalam menerjemahkan zaman. Hari selalu ingin kugoreskan sebaris kata di atas lembaran kertas yang hampa akan cerita. Goresan ini bukanlah tanda lahirnya kebahagiaan, tanda akan datang hari jadi maupun milad, karena manisnya berikatan bukan dilihat dari seberapa banyak orang yang menyorakkan “I'am Happy”. Esensi manisnya berikatan ketika kita mampu terus berjuang, terus berkarya tanpa tempo, sampai Tuhan mengatakan "Ayo Kembali"

Tidak terasa waktu begitu cepat, bergerak seperti kilat.  Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tanda akan lahirnya tantangan baru. Kita bukanlah lagi seorang anak ingusan yang tak kenal huruf dan angka. Kita bukanlah remaja yang terjangkit rindu dan romantisme. Kita adalah pemuda-pemuda yang hidup di tengah gemerlap dan fananya dunia. Di atas pundakmu Allah menaruh kepercayaan agar kita bisa menjadi wakil Allah di muka Bumi. Bukan sebaliknya, menjadi pecandu akan hingar bingar kehidupan dunia.

Suatu kebahagiaan bertemu sapa dengan kaum elit, apalagi menginternalisasikan popularitas dan nilai-nilai yang disampaikan.  Layaknya memetik bintang di tengah gelapnya malam dan rimbunnya dedaunan. Suatu pengharapan agar bisa berdialektika lebih jauh dengan mereka.  Kami berharap mampu menggapai dan memeluknya. Pancaran dan pembiasan cahayanya sedikit lebihnya memberikan warna baru dalam kehidupan kami. Pancaran cahaya seakan-akan tubuh inilah yang mengelurkan sinar tanpa batas, begitupun naluri ilmiah kehidupan manusia. Hidup dengan penuh dengan perayaan, popularitas, hura-hura, bangga akan jabatan, namun lupa untuk merefleksikan diri dan dari mana kita berasal.

Senada dengan yang telah diuraikan di atas, berdialektika dengan kaum elit merupakan momentum memperbaiki diri. Bukan untuk melampiaskan ambiusitas kepopuleran menduduki kursi panas kelembagaan, akan tetapi harus dijadikan bahan evaluasi kualitas diri.

Sekarang bukan bicara siapa yang tua dan siapa yang muda, siapa berbicara dan siapa yang mendengar.  Salah satu yang mesti kita perhatikan adalah sejauh mana kualitas diri kita.  Caranya sederhana, hanya dengan menentukan mana manhajnya, apakah masih berpegang teguh di atas Al Quran dan As Sunnah atau manhaj penuh dengan perkara yang syubhat. Dengan pemahaman agama yang benar tanpa diselipkan pemikiran syubhat dan sekuler, maka kita mampu mengintegrasikan massa dengan menejemen yang baik.  Semua itu akan mampu kita interpretasikan sesuai apa yang kita jalani sekarang.

Dunia tak begitu luas, daun kelor tak begitu lebar,  namun kita senantisa memperebutkannya. Degradasi moral dan sensifitas perasaan menjadi hal lumrah terjadi zaman sekarang. Perekat kayu dijadikan sebagai obat pengantar tidur, obat batuk dijadikan obat penenang jiwa serta pengawet dijadikan bahan pesta malam. Bukan tanpa alasan, namun semua terjadi seiring bekembang pesatnya media dan teknologi.

Sebab utama penurunan kualitas keilmuan, integritas dan militansi seseorang dipandang masyarakat adalah media. Sebab sekarang masyarakat tidak mengenal siapa,  dimana, jabatan dan apa yang kita lakukan. Kualitas diri seseorang dianggap lemah ketika tidak mampu berperang gagasan, retorika serta penampilan di dunia maya. Seakan akan keberhasilan suatu karya dapat di ukur sejauh mana popularitas dan eksistensi seseorang di dunia maya. Perkembangan media dan teknologi kian hari semakin mengendong dan meninabobokan pergerakan kita yang sebatas bergerak di dunia maya. Tentu ini menjadi peristiwa yang cukup miris, mengingat di zaman modern semua bisa dipalsukan. Opini bisa menjadi fakta, teorema menjadi aksioma bahkan Hantu bisa menjadi Tuhan.

Kisah perjalananan Rasulullah SAW telah mengajarkan kita arti sebuah kehidupan. Mereka telah memberikan pijakan terpadu, tangga yang telah tersusun rapi dan elegan. Andai kata kita bisa melompat jauh, bejalan melewati jalan pintas, naik di mimbar menyampaikan Khotbah serta naik di atas panggung untuk pesta, niscaya semua akan tahu bagaimana kebusukan yang kita miliki. Hidup tak semudah seperti apa yang kita pikirkan, tidak semudah membalikan telapak tangan.  Mereka yang melewati jalan pintas dengan tergesa gesa akan merobohkan panggung pentas yang mereka bangun sendiri. Kenapa? Karena esensi dari perjuangan bukankan nama dan jabatan, namun kebahagiaan dan kebersamaan di dalam perjalanan kita. Kebahagiaan itu muncul bukan karena popularitas, namun hasil karya tak henti kita buktikan.

Jargon dan gaungan Fastabiqul Khairat yang senantiasa bergema telah mengubah cara pandang dari kaum Selfiers dan Gauliers untuk lebih visioner.  Mencoba mengajak berpikir rasional dan mencoba merenungkan sebesar apa kekuatan  kita merevolusi diri. Mereka yang dulu nya memperlihatkan kehidupannya di dunia maya, kemudian mulai dipoles dengan lebih baik.

Zaman yang hingar bingar banyak menawarkan popularitas, pencitraan dan sejuta pesona yang penuh kepalsuan, seperti sekarang ini aktivis harus tetap konsisten menjaga janji sucinya dalam menjalankan risalah kenabian. Esensi dari perjuangan bukan sejauh mana keepikan kita dalam beragumentasi dan selantang apa kita berorasi di jalan raya. Sebab apa?  Karena perjuangan tak sekedar apologi. Tidak perlu kata kata pemanis, tidak mesti ada kata kata romantis,  yang penting kerja nyata yang menghasilkan sebuah karya yang fantastik.

Untuk berkhayal, banyak orang yang merasa mudah melakukannya, Tetapi tidak semua khayalan itu  akan  terukir dalam lukiskan dengan penuh tinta emas. Banyak orang yang mampu mengungkapkan dengan kata-kata, Tetapi dari mereka sedikit yang mampu mengamalkannya. Dengan konsistensi dan komitmen yang tinggi dalam bentuk amal akan mampu kita bandingkan,  orang yang kuat menanggung beban dakwah dan amal yang serius. Tentu tidak mudah saudaraku, pertentangan akal dan nasfu,  pertarungan serta kepentingan Invidivu dan kebutuhan ummat harus mampu kita pertegas. Sebab apa?  Berjuang tak sekedar kita menyampaikan dan selesai, namun ada tanggung jawab yang harus kita kerjakan dan selesaikan.

Tapi entahlah, logika liar pramatik menduga-duga sedemikian rupa sehingga kekecewaanpun terjadi, bahkan barangkali sangat benar adanya kita hanya ingin memeperkenalkan nama di ruang publik agar tahu siapa kita. Yang jelas selama berada dalam medan perang, tidak ada istilah berleha-leha pinggir pantai yang ditemani es jeruk dan buah segar. Beberapa hal yang akan kita temukan adalah solidaritas, kekecewaan dan kebahagian bercampur menjadi satu yang utuh.

Kebahagiaan dan kekecewaan itu adalah sebuah keniscayaan. Mahasiswa tidak boleh terpaku di wilayah jabatan yang fana. Gelar dan jabatan bukanlah menjadi penentu sebuah peradaban. Keberhasilan dan kejayaan itu akan lahir seiring pergerakan dari predator intelektual yang khas dengan jiwa integritas dan militansinya. Gelar dan jabatan hanya sebagai salah satu jalan untuk sampai ke puncak kejayaan, bukan satu satunya jalan yang harus kita tempuh.

Segala perjuangan semata-mata karena sang Khaliq, bukan untuk abdul khaliq atau karena popularitas dan ketenaran. Harta, tenaga dan pikiran mutlak di korbankan oleh setiap insan yang paham tugas dan kewajibannya sebagai Creator Of Change. Tak menuntut balasan, tak perlu jabatan maupun emas dan berlian, yang di butuhkan hanyalah sedikit senyuman dari  sahabat seperjuangan. Hari berganti, musim telah berubah mampu tunjukan arti persahabatan. Banyak yang telah dirasakan dan dilalui bersama, hingga akhirnya bisa memahami. Namun satu hal yang pasti, jiwa dan rasa tak pernah berdusta. Hujan, panas terik mentari menjadikan setiap langkah mampu terus berjalan untuk berjuang. Tangisan, deraian air mata hanya untuk tetap berada di jalan-Nya.

Duri, beling maupun badai tak diperpedulikan untuk menegakkan kebenaran dalam kegelapan, karena kita tahu segala perkataan dan perbuatan akan pertanggungjawabkan di ahirat kelak, bukan hanya di dunia. Bukan intelelektualitas maupun ketenaran seseorang yg dibutuhkan, tapi kesabaran, komitmen, kebersamaan dan usahalah yg kita butuhkan, sehingga tidak akan ada kata mustahil untuk kita lakukan.

Betapapun sulitnya perjalanmu, tetaplah setia kepada kebaikan yang ada di dalam hatimu. Semoga kita tetap di istiqomahkan untuk berada di jalan-Nya. Aamiin

My Hijrah My Adventure
Makassar, 10 Februari 2018

Senin, 04 Desember 2017

Maaf Tuhan, Agama-Mu telah dijual



Oleh Immawan Muhammad Nursalam

Manusia adalah mahluk istimewa yang telah diciptakan oleh Tuhan sebagai satu-satunya pencipta terbaik di antara hantu-hantu, Tuhan yang menguasai bumi, langit dan alam semesta. Manusia pun merupakan mahluk yang telah banyak diberikan potensi oleh Allah diantara mahluk-mahluk lain, yang paling unik dan sensasional yaitu manusia merupakan mahluk yang diberikan kehendak bebas oleh Allah Swt, apakah kita mau mengikuti perintah-Nya atau melakukan apa yang telah di larang oleh-Nya. Pendengaran apakah digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, instrumen mata apakah digunakan untuk melihat kebesaran Allah dan apakah instrumen mulut kita gunakan untuk mengucapkan perkara-perkara yang toyyib atau tidak. Redaksi itu akan kembali kepada kita bagaimana kita mampu menerjemahkannya dalam berbangsa dan bernegara.

Negara indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari berbagai suku, budaya, adat, bahasa dan agama yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. 5 Class Point yang tertera dalam sang tikar-tikar cahaya Pancasila menjadi dasar negara tercinta. Ada 5 dasar yang menjadi titik pangkal kebanggaan dari bangsa Indonesia, satu kata yang syarat akan makna yang mampu mencerahkan masyarakat kala itu, namun sungguh miris ketika kita melihat dengan kacamata holistik pada saat sekarang, Pancasila tak lebihnya seperti boneka yang tak bernyawa.

Satu kali dalam sepekan sila-sila dalam Pancasila dikumadangkan tanda akan adanya perenungan sebagaimana perjuangan para pahlawan saat mempersatukan bangsa. Sila yang diharapkan agar bangsa Indonesia sadar bagaimana kobaran semangat para pejuang kala itu, namun sangat disayangkan ternyata pohon apel berbuah timun, pembacaan teks Pancasila ibarat jasad yang kehilangan ruh dalam kehidupan. Pancasila dijalankan sebatas ritual rutinitas, bukan dijadikan sebagai ritual berkualitas. Bisa jadi dengan lantangnya kita mengumandangkan Ketuhan Yang Maha Esa, tapi dalam realitasnya, kehidupan dipenuhi dengan kesyirikan klasik sampai bentuk kesyirikan modern. Boleh jadi kita mengumandangkan Persatuan Indonesia di tengah pusaran kaum yang penuh kenaifan, dilapangan, di kantor, di masjid, kita menjadi lokomotif gerakan separatis, apakah separatis dalam skop lembaga maupun skop yang lebih besar lagi. Sangat di sayangkan saudaraku, begitu kejamnya kehidupan ini yang terlepas dengan rasa kepedulian akan nasib bangsa Indonesia dimasa yang akan datang.

Hari berganti, musim pun telah berubah dan disitulah mereka mampu tunjukan arti hidup, bahkan dalam analisis saya, seketika saya mengamati dan ku pandang langit penuh dengan debu, ku lihat awan penuh dengan kegelapan, kalaupun ku pandang bumi penuh dengan luka dan saat saya melihat bunga, layu tak berdaya. Peristiwa itu semua tidak aka pernah terjadi jikalau manusia mampu menginterprestasikan potensi oleh Allah Swt.

Tuhan berada di tengah hantu-hantu dunia yang haus akan kekuasaan dan jabatan, Tuhan tak lagi dipertuhan kan melainkan hanya sebatas di perhantukan oleh manusia. Mengapa tidak, Tuhan di deskripsikan seperti obat bius untuk mematikan rasa sakit dalam waktu tertentu, bukan yang abadi. Bahkan Tuhan tidak lebih dari direktur yang mendapatkan investasi dari kaum kapitalis, yang setiap saat bisa saja diperjual belikan.

Bukan lagi hal yang asing kita dengar, manusia sudah kehilangan esensi kehidupan mereka. Terlena akan hingar bingarnya dunia sehingga mereka takut mati. Rutinitas pemuda dulu sangat berbeda dengan kebiasaan pemuda zaman sekarang (kids zaman now). Kalaupun dulu kebiasaan pemuda adalah mengaji di waktu sore dan senantiasa gotong royong, sekarang sudah berbalik arah. Tindakan asusila remaja semakin meraja lela, bahkan dalam beberapa pertemuan dikenal dengam istilah PEKAT (Penyakit Masyarakat). Arus sekularisasi dan liberalisasi kini menjadi perhatian umum, bahkan disebagian kota di Indonesia termasuk di Yogyakarta menjadi perhatian khusus. Polisi menjadi sasaran empuk, bahkan menjadi sasaran tuduhan karena tidak mampu membasmi dan menyelesaikan PEKAT. Kebanyakan masyarakat juga beranggapan bahwa mereka (polisi) adalah salah satu pelaku utamanya, katakanlah toge pada saat bulan Ramadhan.  Mereka yang berantas perjudian, ternyata mereka jugalah pelaku perjudian, ibarat lintah daratan lupa ingatan.

Agak menggelitikan juga ketika kita melihat tontonan di Televisi dalam negeri dimana seorang ustad menjadi bintang iklan. Seakan-akan ketika ustad yang menjadi bintang iklan suatu barang itu dapat membawanya seperti ustad itu sendiri, padahal tidak saudaraku. Sedikit lebihnya semakin miris melihat pelatihan-pelatihan agama yang marak terjadi, dengan biaya yang tak tanggung, melampaui pelatihan yang biasa di tawarkan. Iming-iming pelatihan tersebut akan memberikan kedamaian batin ketika mendalaminya, bahkan di iming-imingi akan mengantarkan kita ke jannahNya, namun itu hanya sekedar retorika dusta untuk mengelabui sasarannya. Ini belum termasuk supermarket, alat dan produk yang mengatas namakan dan menjadikan Islam sebagai label penjualan.

Khutbah dan dzikir kolektif yang palsu sering kita jumpai di sosial media. Dibalik retorikanya yang konyol, intonasi kata yang menjebak, penyapaian yang menggebu-gebu terdapat kepentingan partikular yang ingin Ia capai. Di Sakunya terdapat dua hp sejuta ummat, kilauan dan kemewahan yang tampak mahal. Dirinya sibuk kesana kemari untuk mengisi rumah- rumah pejabat dan di beberapa stasiun televisi nasional. Ia adalah rohaniawan muda yang sedang naik daun dan memiliki karir yang menanjak, jam terbang cukup tinggi, terkenal dimana-mana dan itu sebabnya pengahasilanya cukup banyak dan menggiurkan. Dakwahnya riang, konyol bahkan tak segan-segan mengeluarkan bahasa-bahasa gaul anak muda. Dia adalah rohaniawan muda yg mewakili generasi da'i: Cerdas, fasih baca Quran dan selalu mendorong orang berbuat yang ma'ruf. Dia sudah seperti selebriti spiritual.

Walau ada juga ulama yang tampil sederhana dan apa adanya. Sejumlah kisah anak muda yang mencurahkan hidup agar tegaknya agama Islam di bumi. Mulai dari perjuangannya melawan tantangan dan ujian hidup sampai di terjang badai sekalipun, dia tetap berjuang dalam keadaannya yang miskin dan berani. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan pesantren di Indonesia. Pesantren yang dulunya menghasilkan pemikir, pejuang dan penyair-penyair handal kini hanya sebatas kenangan. Hasrat untuk melakukan pembaharuan kurikulum dan mendapatkan dana fantastis mereka rela pesantren dijadikan bahan uji coba untuk melampiaskan keinginan segelintir manusia.

Banyak hal yang kemudian muncul tentang islam ditengah keadaan bangsa yang sedang carut marut. Islam di Indonesia berangsur-angsur kehilangan naluri sebagai rahmatan lil'alamin dan gerakan sosial. Agama yang sebenarnya dijadikan jembatan untuk mencapai ridho dan syurga-Nya malah dijadikan batu loncatan untuk menggapai kepertingan segelintir orang. Lihat saja mulai dari dunia pendidikan, politik, dunia maya di jadikan sebagai ladang untuk mengeksploitasi harta dan tahta sekelompok manusia yang tak pantas mendapat gelar khalifah di muka bumi. Katakanlah pada tahun 2005 program religius dari beberapa stasiun televisi nasional mendapatkan apresiasi karena banyak peminat dari acara tersebut. Dari pagi sampai pagi kembali program di beberapa stasiun televisi di isi dengan program religi yang menggambarkan wajah syurga dan neraka. Kataklah acara Rahasia Ilahi di channel TPI, takdir Ilahi di TPI, Astagfirullah di SCTV dan masih banyak lagi acara yang berlabel agama. Orang awam akan mengatakan ini hal yang biasa, namun ketika di kaji di balik peristiwa itu ada konspirasi yang terjadi. Di khalayak umum agama ditampilkan, namun di balik layar para predator dunia berperang untuk mendapatkan lembaran-lembaran rupiah. Agama kini telah diperjualbelikan, agama berada di antara gama-gama, Tidak ada lagi yang tersisa kecuali degradasi. Semua ini terjadi bukan tanpa sebab, melainkan karena hilangnya kesadaran dan hilangnya naluri dalam beragama.

Lalu dimana peran para ustad, ulama, para pemikir islam? Apakah mereka hanya sibuk mengisi mimbar-mimbar di masjid, atau hanya sekedar memberikan fatwa halal haram serta mengatakan korupsi itu dosa. Gerakan islam dimana mereka berada? Apakah sekedar memberantas dan menutup tempat hiburan malam dan diskotik kalau bulan Ramadhan, yang seakan-akan bulan selain bulan Ramadhan itu bisa diberikan toleransi untuk dijalankan di negeri ini. Sungguh miris dan menyedihkan, kalau peran para ulama hanya berkutib di wilayah situ tanpa menghirauan keadaan di sekitarnya, maka yakin dan percaya agama islam di Indonesia seiring berjalannya waktu hanya dijadikan sebatas mitos-mitos, cerita-cerita sakral.

Persis seperti apa yang di khawatirkan oleh kaum marxis bahwa negara hanya dijadikan sebagai panitia bagi kepentingan-kepentingan para politii yang berjubah agama. Maka tak salah kalau hari ini orang banyak membenarkan perkataan Karl Max bahwa Agama adalah candu kehidupan. Tidak ada lagi kedamaian, tidak ada lagi ketenangan, yang tersisa hanyalah peperangan. Kini agama hanya berada ditangan komplotan yang menyembunyikan firman sesuai pesanan dan kehendak pasaran.

Maka tulisan ini adalah jalan untuk mengajak kepada lapisan masyarakat agar memikirkan kembali bagaimana menyikapi ancaman perebutan kekuasaan yang mengatas namakan Tuhan. Bangkit dan sadarlah wahai saudaraku, ternyata kita berada ditengah pusaran mafia dan predator yang mengatas namakan agama sebagai jalan untuk mencapai kepentingan pribadi mereka.
Semoga kitalah orang yang disebutkan oleh sang ploklamator sejati, Bapak Soekarno yang mengatakan bahwa "kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup dimasa pancaroba. Jadi tetaplah semangat rlang rajawali"

Selamat berjuang, 
My Hijrah My Adventure
Makassar, 17 Nov 2017


Jumat, 08 September 2017

Pesan Untuk Dirimu Wahai Mahasiswa Baru






Oleh Muhammad Nursalam
(Kabider PIKOM IMM FKIP)

Hari ini ku coba goreskan sebaris kata untuk dirimu wahai tunas muda, engkau bagaikan penerang di tengah kegelapan kehidupan dunia. Engkau adalah bak pahlawan yang akan membawa perubahan dan kemajuan. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, sehingga dikau telah menginjak usia dewasa. Engkau bukan lah lagi anak ingusan yang tak mengenal warna, dari pundakmulah orang tuamu menaruh harapan besar agar kelak engkau bisa mejadi orang yang berguna.
Hari ini kau telah membayangkan bagaimana kehidupan di dunia kampus, berkenalan dengan kawan baru, bercanda ria bahkan duduk nongkrong bareng teman barumu. Begitu asyik kalau kita bayangkan. Kita saling bahagia bercerita pengalaman kelam anda sewaktu menduduki kursi SD, SMP maupun SMA. Engkau mereflesikan bagaimana cupunya dirimu, lugu dan sederhananya dirimu waktu itu. Itulah masa-masa indah yang tak mungkin engkau bisa lupakan. Dirimu begitu kelihatan ceria dalam imajinasimu dan keceriaan itu akan pudar seketika anda mengetahui bagaimana kehidupan mahasiswa dalam kampus yang sebenarnya.
Ingat pesan ini wahai anak muda, jangan jadi mahasiswa yang hanya bisa kuliah, pulang, pacaran dan nongkrongan. Karena dalam dirimu tersimpan amanah pencerahan sebagai creator of change (Aktor Perubahan). Salah satu amanah mulia yang memerlukan keberanian dan kesabaran dalam bertindak. Beberapa kebiasaan yang saya sebutkan bukan lah bagian dari karakter sang creator of change, sebab sifat itu hanya dimiliki oleh mahasiswa yang seadanya dan mengikuti arus. Tantangan dan rintangan menjadi hiasan tersendiri dalam dinamika kehidupan kampus, dirimu harus mampu berani dan mandiri dalam menerjemahkan akselerasi dunia kampus. Dua kemungkinan, anda bergerak atau tergantikan. Anda sendirilah yang dapat menentukan jalan hidup anda.
Wahai anak muda, saya telah mengukirkan beberapa karya untuk menemani hidupmu dalam berekspresi di dunia literasi. Karya akan menuntun dirimu agar berani dalam kondisi apapun. Hutan mengajarkan kepada diri kita agar lebih berani dalam mengambil sikap. Hutan pulalalah yang mengajarkan kita bahwa kemapanan, kekayayaan dan ketampanan hanya sebagai racun untuk tubuh ini.
Kemapanan akan menjadikanmu bergerak layaknya ular merayap. Kekayaan tidak lebih akan membuat anda terprovokasi dan terinfeksi penyakit kesombongan layaknya seekor bangkai. Hutan telah banyak mengajarkan kita agar memfungsikan seluruh anggota tubuh secara totalitas.
Kaki diajarkan agar berlari kencang dikala musuh datang, tangan di ajarkan agar mampu mengayun ketika lawan memyerang dan akal dilatih agar berpikir ketika lawan cerdas menjebak.
Wahai anak muda, nyali ibarat nyawa. Kapan hal tersebut hilang maka sama halnya tidak ada gunanya hidup di dunia, ibarat hidup penuh dengan harta dalam kondisi kehampaan. Nyali harus mampu kita jadikan layaknya keberimanan, keberimanan yang mengantarkan kita ke dalam jannahnya Allah. Anda harus mampu melatih diri anda selalu sensitif pada suara apapun. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Berusahalah tinggalkan harta, jabatan menterimu, karena itu akan membuat ruang gerak mu serba terbatas dan lingkungan sosial terlalu banyak dipenuhi oleh butak budak yang dilegalkan. Masih banyak yang harus kalian pikirkan, agama, negara, budaya serta pendidikan menjadi makanan pokok untuk kalian kunyah.
Pada suatu saat nanti dirimu akan bertemu dengan para aktivis dan kaum intektual yang senantiasa mampu menerjemahkan realitas sosial, lebih lebih dalam dunia kampus itu sendiri. Mereka akan memeperkenalkan kepada mu tentang lembaga atau organisasi mereka dan gerakan mereka. Bagaimana cara memposisikan diri sebagai generasi, aktor perubahan, penjaga moralitas serta bagaimana menjadi mahasiswa yang sejati.
Saran saya kepada kalian, berkenalanlah kepada mereka, pelajari dan bergaulah dengan para penggagas perubahan. Mereka yang akan membawa kita pada pintu-pintu kesuksesan, yang mampu mengarakan apa orientasi kita hidup sebagai mahasiswa dan sebagai seorang Hamba. Berkawanlah bersama mereka yang senantiasa mengajarkan kepada kita apa arti sebuah kehidupan, arti dari sebuah pilihan.
Posisikan dirimu sebagai mahasiswa yang yang ingin belajar lebih baik, ingin menjadi mahasiswa yang berani dan mandiri tanpa di intervensi oleh orang lain, menjadi mahasiswa yang cerdas intelektual, cerdas moralitas dan cerdas persoalan Ahlaknya.
Kelak engkau akan merasakan bagaimana menjadi seorang tokoh yang mampu menjawab tantangan zaman, namun hal itu tidak di capai dengan mudah, butuh perjuangan dan proses yang baik sehingga melahirkan hasil yang baik pula. Kau akan mengukir indahnya masa-masamu yang engkau peroleh dari proses dan petualanganmu menjadi mahasiswa.
Sebelum saya menyampaikan pesan untuk kalian wahai kaum intelektual, ingat dan cam kan ini, dirimu adalah patarung dalam peperangan. Berjuang dan berkorbanlah untuk orang terdekatmu, dan kekasihmu. Kalaupun orang terdekatmu dan kau jadikan dia sebagai kekasihmu adalah Nabi Muhammad Saw, maka jadikanlah Beliau sebagai penuntun jalan hidupmu serta ikutilah sirah yang telah Beliau jalani, jadikan setiap perkataan dan perbuatan anda tidak bisa terlepas seperti apa yang telah Rasulullah Saw Contohkan.
Beliau telah memberikan sepenuhnya harta dan berkorban dengan jiwanya untuk keselamatan ummatnya hingga hari penghakiman nanti. Semoga kita senantiasa berada dalam lingkungan orang orang yang mengajak kita ke jalan Allah Saw, yaitu jalan yang mengajarkan kepada kita arti sebuah ketenangan dan kedamaian.
Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqul Khairot
Ahad, 23 Maret 2017
My Hijrah My Adventure

Selasa, 22 Agustus 2017

Inteletual Organik



Berani Bepikir Visioner: Kader IMM sebagai Creative Minority

Oleh IMMawan Muhammad Nursalam
(Kabider PIKOM IMM FKIP 2017-2018)



Anak negeri tak ingin ada tirani
Apalagi oleh bangsa sendiri
Menyandera hak azazi
Pembiaran sama saja dengan mati 8suri
Hidup tak lagi berarti
Pengkerdilan generasi telah terjadi

Tak satu pun berani sebagai oposisi
Kecuali mahasiswa dan aktivis pro demokrasi
Susun strategi melalui kampus perguruan tinggi
Menyadarkan generasi hari demi hari
Mengangkat tangan kepalkan jari
Serukan slogan penyatu aksi
Lawan..! Lawan...! Lawan..!
Terdengar di seluruh negeri

Gerakan terkonsolidasi
Mahasiswa turun ke jalan setiap hari
Rakyat mendukung sepenuh hati
Lakukan aksi berhadapan dengan ABRI
Moncong senjata mengintai semua sisi
Namun tekad tak surut sama sekali

(Karya Arka'a)


Bangkitlah Wahai Sang Aktor Peradaban....
Bangkit dan tunjukan taring mu kepada dunia...
Bangkitlah... 

Bangkit adalah kata yang mendesklarasikan semangat juang dr para pejuang kebenaran, perjuangan yang menggabarkan bagaimana kepedulian kita terhadap untuk umat dan bangsa dari kebobrokan regulasi yang diterapkan sekarang. Hari ini coba kita reflesikansejauh mana kontribusi IMM terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa, khusus nya di internal Muhammadiyah itu sendiri. IMM adalah gerakan amal Ma'ruf Nahi Mungkar, pelopor, pelangsung dan penyempurna dr amal usaha yang telah diperjuangkan oleh Sang Pendekar Pencerahan, Muhammadiyah. IMM tidak boleh menjadi gerakan yang terkungkung pada rutinitas atau program - ptogram tahun-tahun sebelumnya, IMM harus menjadi yang terdepan dalam mengembamgkan dan memajukan Bangsa. IMM lahir dari rahim Muhammadiyah bukanlah hanya untuk menjadi pencerah dikalangan umat islam. Tapi IMM lahir sebagai stabilitator dari buruknya sistem ketatanegaraan kebangsaan pada waktu itu. Jadi jangan heran jikalau hari ini banyak pihak luar mempertanyakan "Apa Bentuk gerakan IMM hari ini??? Apakah sibuk mencetak kader ustadz, kader persyarikatan??? "" ho ho ho, onde mande, pertanyaan yang manis layaknya sarang lebah yang tak berisi madu, indah tapi menusuk dalam jiwa ini. Tentunya hal ini tidak boleh di biarkan begitu saja, harus ada sikap sebagai bentuk respon IMM terhadap asumsi dari pihak luar yang menjadi pertanyaan besar di internal IMM. 

IMM sebagai anak kandung dari Muhammadiyah perlu berbenah diri, apakah masih pantas mendapat gelar pelopor atau tidak. Sehingga untuk mereflesikan Muhammadiyah hari ini, maka IMM lah yang menjadi barometer penuh untuk melihat bagaimana nasib Muhammadiyah kedepan. Gerakan, ideologi dan cara berpikir kader IMM memjadi salah satu indikator bagaimana wajah Muhammadiyah beberapa tahun kedepan. Kader IMM harus mampu melahirkan gagasan-gagasan solutif dan bergerak aktif, Sehingga tidak IMM terjebak dalam rutinitas yang tidak substansial.
Kalaupun hari ini kita berada di zaman teknologi, manusia-manusia yang disebut sebagai generasi Z harus mampu menerjemahkan posisi dan sarana yang ada sekarang. Gerakan yang kreatif dan inovatif menjadi bumbu dalam setiap aktivitas, sehingga jangan heran hari ini kita di tuntut untuk berpikir cerdas dan bekerja keras. 

Menjadi pelopor bukanlah hal yang mudah untuk di aktualisasikan, perlu namanya pembinanaan intensif dan konstruktif jikalau ingin target bisa dicapai. Gagasan, ide dari kader imm harus barbau solutif dan membangun, sehingga orang bisa tersadarkan bagaimana akselerasi zaman sekarang. 

Hari ini saya coba menggoreskan sebuah karya yang berawal dari keresahan jiwa dalam melihat realitas dan tantangan di kampus biru. IMM yang dikenal sebagai anak kandung Muhammadiyah tumbang karena persoalan amal usaha dari sang Induk Muhammadiyah. Ibarat kita adalah segerombolan orang yang bertamu di rumah sendiri, team dari kaum separatis tertawa riang melihat kemunduran kita, dan anehnya kita sadar akan hal itu namun tak mau bertindak untuk keluar dari keterpurukan (kesadaran naif). Oleh karena itulah kader IMM harus menjadi aktor dalam perubahan, karena pada dasarnya kita memiliki tanggung jawab sebagai Creator Of Change dalam menginterpretasikan fenomena sosial. IMM harus menjadi lokomotif perubahan dalam masyarakat, minimal membawa perubahan di masyarakat kampus. Sehingga saya berani mengatakan kader IMM harus berpikir visioner, berani berpikir cerdas dan menjadikan IMM sebagai Creative Minority. Ya, kata yang tidak asing lagi di telinga kita para aktor dan pecinta perubahan. 

Minoritas Kreatif adalah mereka yang memiliki idealisme dan kecerdasan untuk berpikir panjang dan luas mengenai masa depan. Dalam pidatonya Bapak Andi Malarangeng (eks Menpora) mengatakan "kreatif minoritas adalah inti suatu gerakan, dimana-mana penggagas ide adalah kelompok kecil, sehingga parameternya sejauh mana ide ide dapat di terima di Masyarakat". Kreatif minoritas biasa diterapkan dalam memperkenalkan suatu organisasi, interpreneur dan rekuitment kader. Nah, kalau perekrutan kader sendiri tentunya kita juga memiliki rival atau kompetitor. Bisa jadi gerakan mahasiswa lain, bahkan lembaga dakwah kampus. Tentunya strategi yang kita rancang harus berbeda dengan rival kita agar hasil rekrutmen kita optimal.


Maka dari itu perlu ada namanya kesadaran dalam diri setiap kader, perlu di tegakkan konsep kolektif kolegial serta kerja sama team yang saling berbagi kesenangan dan kesedihan. 

Satu tujuan, satu visi, satu misi
Kita tidak berdiri sendiri
Kita punya tujuan hakiki
Kita punya TRILOGI:

Ayo sama sama bergerak saudaraku, yakinlah bahwa kita mampu, kita bisa, kita pasti bisa. Kita akan raih bintang-bintang yang terbentang di langit. Jangan pernah ragu, Kita bisa jadi yang terdepan, ketika kita bersatu bersama dalam satu irama untuk IMM maka, percayalah kita pasti dapat meraihnya. Ulurkan tanganmu, Genggamlah tanganku, kita pasti bisa saudaraku untuk terbang meraih kejayaan, kita bisa! Kita pasti Bisa

Ayo Bergerak!!!

My Hijrah My Adventure
Makassar, 22 Agustus 2017


Jumat, 11 Agustus 2017

Teologi Iqro'



Derita "KOMA" berkepanjangan: Kader dalam cengkraman ilusinasi
Oleh: immawan Muhammad Nursalam
(Ketua Bidang Kader Pikom IMM FKIP)


Sejarah adalah kata sederhana yang syarat akan makna, padat namun memiliki arti yang luas. Sejarah bukanlah untaian kenangan yang kosong. Sejarah adalah pembelajaran yang menentukan arah transformasi kita kedepan. Kalau hari ini saja kita sudah berani melupakan sejarah, akan jadi bangsa ini kedepan. Tidak bisa di pungkiri bahwa sejarah bukan penentu mutlak masa depan, namun peran sejarah sedikit lebihnya mampu menyadarkan kepada kita tentang apa yang harus kita lakukan demgan pengalaman empirik yg dilalui. Apakah dirimu tak berpikir jikalau anda melupakan sejarah akan ada aktor yang akan memanipulasi goresan keemasan yang pernah di ukir dan di ganti dengan mencengkol sejarah baru yang penuh dengan konspirasi dan pendustaan. Bukan hal yang asing lagi kalau kita uarikan persoalan hegemoni, intervensi dan propaganda, beberapa itu begitu familiar di telinga kita yang kian pasti akan terkubur ibarat ikan gabus dalam gumpalan lumpur yang sudah mengering.
Di saat masyarakat Indonesia mulai kehilangan alasan untuk mencintai negaranya (Nasionalisme) karena banyaknya aktifitas sosial yg kian lama semakin mencekram para kaum marjinal, korupsi, kolusi, polusi, dan nepotisme menjadi hiasan kehidupan, sehingga sadar atau tidak sadar suara perlawanan semakin bergema tanda adanya sebuah gerakan. Adanya inisiatif dengan muncul seruan-seruan yang ‘membangunkan’ rakyat yang lesu agar bangun, sadar, dan mau bergerak dalam keadaan yang terjadi disekitarnya.
Berawal dari sensasi berbeda saat menyanyikan lagu indonesia raya akan berdampak bagaimana kita mampu menginterprearasikan jiwa-jiwa patriot dan nasionalis dalam berbangsa. Sorakan dari sudut stadion akan berbeda dengan sorakan lagu di medan perang dan tempat upacara yang kian lama semakin hilang dari esensinya sebagai syair pembangkit semangat dalam merefrlesikan perjuangan para pejuang kala itu. Begitu pula jikalau kita tarik dalam konteks kepemimpinan dalam ikatan, Sensani dalam menerjemahkan identitas kader semakin pupus tanpa adanya sebuah tindakan. Langit yang dulunya cerah tanpa awan, pemandangan yang menyejukan hati sekarang hnya sebatas angan angan. Jikalau kita pandang langit penuh dengan debu, jikalau kita lihat awan begitu hitam pekat tanda bobroknya kehiupan dunia. Jikalau pandang bumi akan terlihat bagaimana bumi penuh duka dan kebencian yg tentunya jikalau sekarang anda melihat bunga, hampir bisa dibayangkan semua layu pertanda hilangnya esensi dan eksistensi kehidupan. Maka apalagi yang bisa kita harapkan, tidak ada kesenangan, yang ada yang lawan dan perlawanan. Tidak ada lagi kedamaian, yang ada hanya pertumpahan darah yg mengalir tanpa arah.
Identitas kader dalam ikatan adalah suatu keniscayaan, tindakan dan pergerakan adalah suatu hal yanh mutlak tuk kita jalani. Jangan heran bila hari ini identitas sebagai seorang kader perlu kita pertanyakan kembali. Mengapa tidak, sifat militansi, integritas dan progresifitas kader kian hilang ditelan masa.
Langit merona merah jingga, Membentang luas sepanjang sudut Cakrawala.
Kader yang dulu pro aktif dalam menyuarakan keadilan dan kesejahteraan pupus hanya karena terkubur dalam dunia nyamannya. Sifat komsumtif dan kaku menjadi pajangan dalam karir yang sedang mereka jalani, mereka takut untuk berkorban, harta, tenaga lebih mereka arahkan untuk mencapai kepentingan partikularnya di banding kepentingan bersama. Hari ini, sorot sang fajar tak hanya memuram di timur, tapi dia menjamur disepanjang bangunan.
Potret hari ini menunjukan tombak peradaban bernama akademisi islam itu kini kian rapuh. Musuh terbesar gerakan mahasiswa hari ini adalah apatisme, entah itu mereka yang memang apatis, atau mereka yang memilih untuk apatis. Invasi globalisasi dan hedonisme kian hari semakin menggerogoti tubuh dan pikiran mahasiswa.
Dari situlah muncul keinginan dalam diri kita untuk sama sama menjadi salah seorang yang aktif mempromosikan sisi positif dari mahasiswa lebih khususnya kader di mata kampus dan masyarakat, khususnya generasi muda yg lalai dari tanggung jawabnya sebagai creator of change.
Kader harus mampu ikut andil dalam menjalankan tugas mulianya dalam kondisi akselerasi zaman yang semakin mencekam pergerakan mahasiswa, sehingga bukan hanya sekedar wacana dan pintar beretorika saja, namun perlu namanya tindakan praksis sebagai bentuk manifestasi integritas yang dimiliki. Selanjutnya, kader harus mengekplorasi potensi yang mereka miliki, karya demi karya harus ia telurkan. Antara lain dengan cara melestarikan budaya literasi, mulai membaca, diskusi hingga menulis berdasar gagasan yang dilmiliki. Bukankah peradaban lahir karena bacaan, sehingga betul yang sering di sampaikan oleh Ketua Umum PIKOM IMM FKIP yang menyatakan bahwa "Dikala kita sendiri kita membaca, dikala kita berdua kita berdiskusi dan dikala kita bertiga kita beraksi"( Muh. S'yaban).
Fenomena Alam telah menggambarkan kepada kita masalah-masalah yang konterporer ini terjadi, sehingga hutan mengajarkan kepada kita bagaimana harus hidup dalam kegelapan. Pesan untuk anda para tombak peradaban, ukirlah sejarahmu dengan cara yang bijak. Goreskanlah penamu di atas kertas putih yang berisikan kebaikan dan kebenaran. Tidak akan ada perubahan dan kemajuan tanpa adanya suatu pengorbanan. Hari ini anda punya hak dan wewenang untuk mengukir sejarahmu, tujuan mu didepan bukan samping atau diblakang. Jadi manfaatkanlah kesempatan yang telah diberikan, karena waktu mu terlalu singkat untuk dapat berekspresi. 

Tunjukanlah Ekspresi terbaikmu
Salam Semangat Juang

Makassar, 11 Agustus 2017 M
#My Hijrah My Adventure

TUHAN! Kami Tidak Butuh Popularitas

Oleh IMMawan Muhammad Nursalam ( Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar) Diam bukan berarti mati, bergerak belum tentu ...