Oleh IMMawan Muhammad Nursalam
(Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar)
Diam bukan berarti mati,
bergerak belum tentu maju. Katakanlah inilah Aku yang sebenarnya.
Sengaja
berdiam dalam penjara literasi tidak menjadikan kita kaku dalam menerjemahkan
zaman. Hari selalu ingin kugoreskan sebaris kata di atas lembaran kertas yang
hampa akan cerita. Goresan ini bukanlah tanda lahirnya kebahagiaan, tanda akan
datang hari jadi maupun milad, karena manisnya berikatan bukan dilihat dari
seberapa banyak orang yang menyorakkan “I'am
Happy”. Esensi manisnya berikatan ketika kita mampu terus berjuang, terus
berkarya tanpa tempo, sampai Tuhan mengatakan "Ayo Kembali"
Tidak terasa
waktu begitu cepat, bergerak seperti kilat.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tanda akan lahirnya tantangan
baru. Kita bukanlah lagi seorang anak ingusan yang tak kenal huruf dan angka.
Kita bukanlah remaja yang terjangkit rindu dan romantisme. Kita adalah
pemuda-pemuda yang hidup di tengah gemerlap dan fananya dunia. Di atas pundakmu
Allah menaruh kepercayaan agar kita bisa menjadi wakil Allah di muka Bumi.
Bukan sebaliknya, menjadi pecandu akan hingar bingar kehidupan dunia.
Suatu
kebahagiaan bertemu sapa dengan kaum elit, apalagi menginternalisasikan
popularitas dan nilai-nilai yang disampaikan.
Layaknya memetik bintang di tengah gelapnya malam dan rimbunnya
dedaunan. Suatu pengharapan agar bisa berdialektika lebih jauh dengan
mereka. Kami berharap mampu menggapai
dan memeluknya. Pancaran dan pembiasan cahayanya sedikit lebihnya memberikan
warna baru dalam kehidupan kami. Pancaran cahaya seakan-akan tubuh inilah yang
mengelurkan sinar tanpa batas, begitupun naluri ilmiah kehidupan manusia. Hidup
dengan penuh dengan perayaan, popularitas, hura-hura, bangga akan jabatan,
namun lupa untuk merefleksikan diri dan dari mana kita berasal.
Senada
dengan yang telah diuraikan di atas, berdialektika dengan kaum elit merupakan
momentum memperbaiki diri. Bukan untuk melampiaskan ambiusitas kepopuleran
menduduki kursi panas kelembagaan, akan tetapi harus dijadikan bahan evaluasi
kualitas diri.
Sekarang
bukan bicara siapa yang tua dan siapa yang muda, siapa berbicara dan siapa yang
mendengar. Salah satu yang mesti kita
perhatikan adalah sejauh mana kualitas diri kita. Caranya sederhana, hanya dengan menentukan
mana manhajnya, apakah masih berpegang teguh di atas Al Quran dan As Sunnah
atau manhaj penuh dengan perkara yang syubhat.
Dengan pemahaman agama yang benar tanpa diselipkan pemikiran syubhat dan sekuler, maka kita mampu
mengintegrasikan massa dengan menejemen yang baik. Semua itu akan mampu kita interpretasikan
sesuai apa yang kita jalani sekarang.
Dunia tak
begitu luas, daun kelor tak begitu lebar,
namun kita senantisa memperebutkannya. Degradasi moral dan sensifitas
perasaan menjadi hal lumrah terjadi zaman sekarang. Perekat kayu dijadikan
sebagai obat pengantar tidur, obat batuk dijadikan obat penenang jiwa serta
pengawet dijadikan bahan pesta malam. Bukan tanpa alasan, namun semua terjadi
seiring bekembang pesatnya media dan teknologi.
Sebab utama
penurunan kualitas keilmuan, integritas dan militansi seseorang dipandang
masyarakat adalah media. Sebab sekarang masyarakat tidak mengenal siapa, dimana, jabatan dan apa yang kita lakukan.
Kualitas diri seseorang dianggap lemah ketika tidak mampu berperang gagasan,
retorika serta penampilan di dunia maya. Seakan akan keberhasilan suatu karya
dapat di ukur sejauh mana popularitas dan eksistensi seseorang di dunia maya.
Perkembangan media dan teknologi kian hari semakin mengendong dan meninabobokan
pergerakan kita yang sebatas bergerak di dunia maya. Tentu ini menjadi
peristiwa yang cukup miris, mengingat di zaman modern semua bisa dipalsukan.
Opini bisa menjadi fakta, teorema menjadi aksioma bahkan Hantu bisa menjadi
Tuhan.
Kisah
perjalananan Rasulullah SAW telah mengajarkan kita arti sebuah kehidupan.
Mereka telah memberikan pijakan terpadu, tangga yang telah tersusun rapi dan
elegan. Andai kata kita bisa melompat jauh, bejalan melewati jalan pintas, naik
di mimbar menyampaikan Khotbah serta naik di atas panggung untuk pesta, niscaya
semua akan tahu bagaimana kebusukan yang kita miliki. Hidup tak semudah seperti
apa yang kita pikirkan, tidak semudah membalikan telapak tangan. Mereka yang melewati jalan pintas dengan
tergesa gesa akan merobohkan panggung pentas yang mereka bangun sendiri.
Kenapa? Karena esensi dari perjuangan bukankan nama dan jabatan, namun
kebahagiaan dan kebersamaan di dalam perjalanan kita. Kebahagiaan itu muncul
bukan karena popularitas, namun hasil karya tak henti kita buktikan.
Jargon dan
gaungan Fastabiqul Khairat yang senantiasa bergema telah mengubah cara pandang
dari kaum Selfiers dan Gauliers untuk lebih visioner. Mencoba mengajak berpikir rasional dan
mencoba merenungkan sebesar apa kekuatan
kita merevolusi diri. Mereka yang dulu nya memperlihatkan kehidupannya
di dunia maya, kemudian mulai dipoles dengan lebih baik.
Zaman yang
hingar bingar banyak menawarkan popularitas, pencitraan dan sejuta pesona yang
penuh kepalsuan, seperti sekarang ini aktivis harus tetap konsisten menjaga
janji sucinya dalam menjalankan risalah kenabian. Esensi dari perjuangan bukan
sejauh mana keepikan kita dalam beragumentasi dan selantang apa kita berorasi
di jalan raya. Sebab apa? Karena perjuangan
tak sekedar apologi. Tidak perlu kata kata pemanis, tidak mesti ada kata kata
romantis, yang penting kerja nyata yang
menghasilkan sebuah karya yang fantastik.
Untuk
berkhayal, banyak orang yang merasa mudah melakukannya, Tetapi tidak semua
khayalan itu akan terukir dalam lukiskan dengan penuh tinta
emas. Banyak orang yang mampu mengungkapkan dengan kata-kata, Tetapi dari
mereka sedikit yang mampu mengamalkannya. Dengan konsistensi dan komitmen yang
tinggi dalam bentuk amal akan mampu kita bandingkan, orang yang kuat menanggung beban dakwah dan
amal yang serius. Tentu tidak mudah saudaraku, pertentangan akal dan nasfu, pertarungan serta kepentingan Invidivu dan
kebutuhan ummat harus mampu kita pertegas. Sebab apa? Berjuang tak sekedar kita menyampaikan dan
selesai, namun ada tanggung jawab yang harus kita kerjakan dan selesaikan.
Tapi
entahlah, logika liar pramatik menduga-duga sedemikian rupa sehingga
kekecewaanpun terjadi, bahkan barangkali sangat benar adanya kita hanya ingin
memeperkenalkan nama di ruang publik agar tahu siapa kita. Yang jelas selama
berada dalam medan perang, tidak ada istilah berleha-leha pinggir pantai yang
ditemani es jeruk dan buah segar. Beberapa hal yang akan kita temukan adalah
solidaritas, kekecewaan dan kebahagian bercampur menjadi satu yang utuh.
Kebahagiaan
dan kekecewaan itu adalah sebuah keniscayaan. Mahasiswa tidak boleh terpaku di
wilayah jabatan yang fana. Gelar dan jabatan bukanlah menjadi penentu sebuah
peradaban. Keberhasilan dan kejayaan itu akan lahir seiring pergerakan dari
predator intelektual yang khas dengan jiwa integritas dan militansinya. Gelar
dan jabatan hanya sebagai salah satu jalan untuk sampai ke puncak kejayaan,
bukan satu satunya jalan yang harus kita tempuh.
Segala
perjuangan semata-mata karena sang Khaliq, bukan untuk abdul khaliq atau karena
popularitas dan ketenaran. Harta, tenaga dan pikiran mutlak di korbankan oleh
setiap insan yang paham tugas dan kewajibannya sebagai Creator Of Change. Tak menuntut balasan, tak perlu jabatan maupun
emas dan berlian, yang di butuhkan hanyalah sedikit senyuman dari sahabat seperjuangan. Hari berganti, musim
telah berubah mampu tunjukan arti persahabatan. Banyak yang telah dirasakan dan
dilalui bersama, hingga akhirnya bisa memahami. Namun satu hal yang pasti, jiwa
dan rasa tak pernah berdusta. Hujan, panas terik mentari menjadikan setiap
langkah mampu terus berjalan untuk berjuang. Tangisan, deraian air mata hanya
untuk tetap berada di jalan-Nya.
Duri, beling
maupun badai tak diperpedulikan untuk menegakkan kebenaran dalam kegelapan,
karena kita tahu segala perkataan dan perbuatan akan pertanggungjawabkan di ahirat
kelak, bukan hanya di dunia. Bukan intelelektualitas maupun ketenaran seseorang
yg dibutuhkan, tapi kesabaran, komitmen, kebersamaan dan usahalah yg kita
butuhkan, sehingga tidak akan ada kata mustahil untuk kita lakukan.
Betapapun sulitnya perjalanmu,
tetaplah setia kepada kebaikan yang ada di dalam hatimu. Semoga kita tetap di
istiqomahkan untuk berada di jalan-Nya. Aamiin
My Hijrah My Adventure
Makassar, 10 Februari 2018




