Senin, 04 Desember 2017

Maaf Tuhan, Agama-Mu telah dijual



Oleh Immawan Muhammad Nursalam

Manusia adalah mahluk istimewa yang telah diciptakan oleh Tuhan sebagai satu-satunya pencipta terbaik di antara hantu-hantu, Tuhan yang menguasai bumi, langit dan alam semesta. Manusia pun merupakan mahluk yang telah banyak diberikan potensi oleh Allah diantara mahluk-mahluk lain, yang paling unik dan sensasional yaitu manusia merupakan mahluk yang diberikan kehendak bebas oleh Allah Swt, apakah kita mau mengikuti perintah-Nya atau melakukan apa yang telah di larang oleh-Nya. Pendengaran apakah digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, instrumen mata apakah digunakan untuk melihat kebesaran Allah dan apakah instrumen mulut kita gunakan untuk mengucapkan perkara-perkara yang toyyib atau tidak. Redaksi itu akan kembali kepada kita bagaimana kita mampu menerjemahkannya dalam berbangsa dan bernegara.

Negara indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari berbagai suku, budaya, adat, bahasa dan agama yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. 5 Class Point yang tertera dalam sang tikar-tikar cahaya Pancasila menjadi dasar negara tercinta. Ada 5 dasar yang menjadi titik pangkal kebanggaan dari bangsa Indonesia, satu kata yang syarat akan makna yang mampu mencerahkan masyarakat kala itu, namun sungguh miris ketika kita melihat dengan kacamata holistik pada saat sekarang, Pancasila tak lebihnya seperti boneka yang tak bernyawa.

Satu kali dalam sepekan sila-sila dalam Pancasila dikumadangkan tanda akan adanya perenungan sebagaimana perjuangan para pahlawan saat mempersatukan bangsa. Sila yang diharapkan agar bangsa Indonesia sadar bagaimana kobaran semangat para pejuang kala itu, namun sangat disayangkan ternyata pohon apel berbuah timun, pembacaan teks Pancasila ibarat jasad yang kehilangan ruh dalam kehidupan. Pancasila dijalankan sebatas ritual rutinitas, bukan dijadikan sebagai ritual berkualitas. Bisa jadi dengan lantangnya kita mengumandangkan Ketuhan Yang Maha Esa, tapi dalam realitasnya, kehidupan dipenuhi dengan kesyirikan klasik sampai bentuk kesyirikan modern. Boleh jadi kita mengumandangkan Persatuan Indonesia di tengah pusaran kaum yang penuh kenaifan, dilapangan, di kantor, di masjid, kita menjadi lokomotif gerakan separatis, apakah separatis dalam skop lembaga maupun skop yang lebih besar lagi. Sangat di sayangkan saudaraku, begitu kejamnya kehidupan ini yang terlepas dengan rasa kepedulian akan nasib bangsa Indonesia dimasa yang akan datang.

Hari berganti, musim pun telah berubah dan disitulah mereka mampu tunjukan arti hidup, bahkan dalam analisis saya, seketika saya mengamati dan ku pandang langit penuh dengan debu, ku lihat awan penuh dengan kegelapan, kalaupun ku pandang bumi penuh dengan luka dan saat saya melihat bunga, layu tak berdaya. Peristiwa itu semua tidak aka pernah terjadi jikalau manusia mampu menginterprestasikan potensi oleh Allah Swt.

Tuhan berada di tengah hantu-hantu dunia yang haus akan kekuasaan dan jabatan, Tuhan tak lagi dipertuhan kan melainkan hanya sebatas di perhantukan oleh manusia. Mengapa tidak, Tuhan di deskripsikan seperti obat bius untuk mematikan rasa sakit dalam waktu tertentu, bukan yang abadi. Bahkan Tuhan tidak lebih dari direktur yang mendapatkan investasi dari kaum kapitalis, yang setiap saat bisa saja diperjual belikan.

Bukan lagi hal yang asing kita dengar, manusia sudah kehilangan esensi kehidupan mereka. Terlena akan hingar bingarnya dunia sehingga mereka takut mati. Rutinitas pemuda dulu sangat berbeda dengan kebiasaan pemuda zaman sekarang (kids zaman now). Kalaupun dulu kebiasaan pemuda adalah mengaji di waktu sore dan senantiasa gotong royong, sekarang sudah berbalik arah. Tindakan asusila remaja semakin meraja lela, bahkan dalam beberapa pertemuan dikenal dengam istilah PEKAT (Penyakit Masyarakat). Arus sekularisasi dan liberalisasi kini menjadi perhatian umum, bahkan disebagian kota di Indonesia termasuk di Yogyakarta menjadi perhatian khusus. Polisi menjadi sasaran empuk, bahkan menjadi sasaran tuduhan karena tidak mampu membasmi dan menyelesaikan PEKAT. Kebanyakan masyarakat juga beranggapan bahwa mereka (polisi) adalah salah satu pelaku utamanya, katakanlah toge pada saat bulan Ramadhan.  Mereka yang berantas perjudian, ternyata mereka jugalah pelaku perjudian, ibarat lintah daratan lupa ingatan.

Agak menggelitikan juga ketika kita melihat tontonan di Televisi dalam negeri dimana seorang ustad menjadi bintang iklan. Seakan-akan ketika ustad yang menjadi bintang iklan suatu barang itu dapat membawanya seperti ustad itu sendiri, padahal tidak saudaraku. Sedikit lebihnya semakin miris melihat pelatihan-pelatihan agama yang marak terjadi, dengan biaya yang tak tanggung, melampaui pelatihan yang biasa di tawarkan. Iming-iming pelatihan tersebut akan memberikan kedamaian batin ketika mendalaminya, bahkan di iming-imingi akan mengantarkan kita ke jannahNya, namun itu hanya sekedar retorika dusta untuk mengelabui sasarannya. Ini belum termasuk supermarket, alat dan produk yang mengatas namakan dan menjadikan Islam sebagai label penjualan.

Khutbah dan dzikir kolektif yang palsu sering kita jumpai di sosial media. Dibalik retorikanya yang konyol, intonasi kata yang menjebak, penyapaian yang menggebu-gebu terdapat kepentingan partikular yang ingin Ia capai. Di Sakunya terdapat dua hp sejuta ummat, kilauan dan kemewahan yang tampak mahal. Dirinya sibuk kesana kemari untuk mengisi rumah- rumah pejabat dan di beberapa stasiun televisi nasional. Ia adalah rohaniawan muda yang sedang naik daun dan memiliki karir yang menanjak, jam terbang cukup tinggi, terkenal dimana-mana dan itu sebabnya pengahasilanya cukup banyak dan menggiurkan. Dakwahnya riang, konyol bahkan tak segan-segan mengeluarkan bahasa-bahasa gaul anak muda. Dia adalah rohaniawan muda yg mewakili generasi da'i: Cerdas, fasih baca Quran dan selalu mendorong orang berbuat yang ma'ruf. Dia sudah seperti selebriti spiritual.

Walau ada juga ulama yang tampil sederhana dan apa adanya. Sejumlah kisah anak muda yang mencurahkan hidup agar tegaknya agama Islam di bumi. Mulai dari perjuangannya melawan tantangan dan ujian hidup sampai di terjang badai sekalipun, dia tetap berjuang dalam keadaannya yang miskin dan berani. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan pesantren di Indonesia. Pesantren yang dulunya menghasilkan pemikir, pejuang dan penyair-penyair handal kini hanya sebatas kenangan. Hasrat untuk melakukan pembaharuan kurikulum dan mendapatkan dana fantastis mereka rela pesantren dijadikan bahan uji coba untuk melampiaskan keinginan segelintir manusia.

Banyak hal yang kemudian muncul tentang islam ditengah keadaan bangsa yang sedang carut marut. Islam di Indonesia berangsur-angsur kehilangan naluri sebagai rahmatan lil'alamin dan gerakan sosial. Agama yang sebenarnya dijadikan jembatan untuk mencapai ridho dan syurga-Nya malah dijadikan batu loncatan untuk menggapai kepertingan segelintir orang. Lihat saja mulai dari dunia pendidikan, politik, dunia maya di jadikan sebagai ladang untuk mengeksploitasi harta dan tahta sekelompok manusia yang tak pantas mendapat gelar khalifah di muka bumi. Katakanlah pada tahun 2005 program religius dari beberapa stasiun televisi nasional mendapatkan apresiasi karena banyak peminat dari acara tersebut. Dari pagi sampai pagi kembali program di beberapa stasiun televisi di isi dengan program religi yang menggambarkan wajah syurga dan neraka. Kataklah acara Rahasia Ilahi di channel TPI, takdir Ilahi di TPI, Astagfirullah di SCTV dan masih banyak lagi acara yang berlabel agama. Orang awam akan mengatakan ini hal yang biasa, namun ketika di kaji di balik peristiwa itu ada konspirasi yang terjadi. Di khalayak umum agama ditampilkan, namun di balik layar para predator dunia berperang untuk mendapatkan lembaran-lembaran rupiah. Agama kini telah diperjualbelikan, agama berada di antara gama-gama, Tidak ada lagi yang tersisa kecuali degradasi. Semua ini terjadi bukan tanpa sebab, melainkan karena hilangnya kesadaran dan hilangnya naluri dalam beragama.

Lalu dimana peran para ustad, ulama, para pemikir islam? Apakah mereka hanya sibuk mengisi mimbar-mimbar di masjid, atau hanya sekedar memberikan fatwa halal haram serta mengatakan korupsi itu dosa. Gerakan islam dimana mereka berada? Apakah sekedar memberantas dan menutup tempat hiburan malam dan diskotik kalau bulan Ramadhan, yang seakan-akan bulan selain bulan Ramadhan itu bisa diberikan toleransi untuk dijalankan di negeri ini. Sungguh miris dan menyedihkan, kalau peran para ulama hanya berkutib di wilayah situ tanpa menghirauan keadaan di sekitarnya, maka yakin dan percaya agama islam di Indonesia seiring berjalannya waktu hanya dijadikan sebatas mitos-mitos, cerita-cerita sakral.

Persis seperti apa yang di khawatirkan oleh kaum marxis bahwa negara hanya dijadikan sebagai panitia bagi kepentingan-kepentingan para politii yang berjubah agama. Maka tak salah kalau hari ini orang banyak membenarkan perkataan Karl Max bahwa Agama adalah candu kehidupan. Tidak ada lagi kedamaian, tidak ada lagi ketenangan, yang tersisa hanyalah peperangan. Kini agama hanya berada ditangan komplotan yang menyembunyikan firman sesuai pesanan dan kehendak pasaran.

Maka tulisan ini adalah jalan untuk mengajak kepada lapisan masyarakat agar memikirkan kembali bagaimana menyikapi ancaman perebutan kekuasaan yang mengatas namakan Tuhan. Bangkit dan sadarlah wahai saudaraku, ternyata kita berada ditengah pusaran mafia dan predator yang mengatas namakan agama sebagai jalan untuk mencapai kepentingan pribadi mereka.
Semoga kitalah orang yang disebutkan oleh sang ploklamator sejati, Bapak Soekarno yang mengatakan bahwa "kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup dimasa pancaroba. Jadi tetaplah semangat rlang rajawali"

Selamat berjuang, 
My Hijrah My Adventure
Makassar, 17 Nov 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUHAN! Kami Tidak Butuh Popularitas

Oleh IMMawan Muhammad Nursalam ( Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar) Diam bukan berarti mati, bergerak belum tentu ...