Oleh Immawan
Muhammad Nursalam
Manusia adalah
mahluk istimewa yang telah diciptakan oleh Tuhan sebagai satu-satunya pencipta
terbaik di antara hantu-hantu, Tuhan yang menguasai bumi, langit dan alam
semesta. Manusia pun merupakan mahluk yang telah banyak diberikan potensi oleh
Allah diantara mahluk-mahluk lain, yang paling unik dan sensasional yaitu
manusia merupakan mahluk yang diberikan kehendak bebas oleh Allah Swt, apakah
kita mau mengikuti perintah-Nya atau melakukan apa yang telah di larang oleh-Nya.
Pendengaran apakah digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, instrumen mata
apakah digunakan untuk melihat kebesaran Allah dan apakah instrumen mulut kita
gunakan untuk mengucapkan perkara-perkara yang toyyib atau tidak. Redaksi itu akan kembali kepada kita bagaimana
kita mampu menerjemahkannya dalam berbangsa dan bernegara.
Negara
indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari berbagai suku, budaya, adat,
bahasa dan agama yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. 5 Class Point yang tertera dalam sang
tikar-tikar cahaya Pancasila menjadi dasar negara tercinta. Ada 5 dasar yang
menjadi titik pangkal kebanggaan dari bangsa Indonesia, satu kata yang syarat
akan makna yang mampu mencerahkan masyarakat kala itu, namun sungguh miris ketika
kita melihat dengan kacamata holistik pada saat sekarang, Pancasila tak
lebihnya seperti boneka yang tak bernyawa.
Satu kali
dalam sepekan sila-sila dalam Pancasila dikumadangkan tanda akan adanya
perenungan sebagaimana perjuangan para pahlawan saat mempersatukan bangsa. Sila
yang diharapkan agar bangsa Indonesia sadar bagaimana kobaran semangat para
pejuang kala itu, namun sangat disayangkan ternyata pohon apel berbuah timun,
pembacaan teks Pancasila ibarat jasad yang kehilangan ruh dalam kehidupan.
Pancasila dijalankan sebatas ritual rutinitas, bukan dijadikan sebagai ritual
berkualitas. Bisa jadi dengan lantangnya kita mengumandangkan Ketuhan Yang Maha Esa, tapi dalam
realitasnya, kehidupan dipenuhi dengan kesyirikan klasik sampai bentuk
kesyirikan modern. Boleh jadi kita mengumandangkan Persatuan Indonesia di tengah pusaran kaum yang penuh kenaifan,
dilapangan, di kantor, di masjid, kita menjadi lokomotif gerakan separatis, apakah
separatis dalam skop lembaga maupun skop yang lebih besar lagi. Sangat di
sayangkan saudaraku, begitu kejamnya kehidupan ini yang terlepas dengan rasa
kepedulian akan nasib bangsa Indonesia dimasa yang akan datang.
Hari berganti,
musim pun telah berubah dan disitulah mereka mampu tunjukan arti hidup, bahkan
dalam analisis saya, seketika saya mengamati dan ku pandang langit penuh dengan
debu, ku lihat awan penuh dengan kegelapan, kalaupun ku pandang bumi penuh
dengan luka dan saat saya melihat bunga, layu tak berdaya. Peristiwa itu semua
tidak aka pernah terjadi jikalau manusia mampu menginterprestasikan potensi
oleh Allah Swt.
Tuhan berada
di tengah hantu-hantu dunia yang haus akan kekuasaan dan jabatan, Tuhan tak
lagi dipertuhan kan melainkan hanya sebatas di perhantukan oleh manusia.
Mengapa tidak, Tuhan di deskripsikan seperti obat bius untuk mematikan rasa
sakit dalam waktu tertentu, bukan yang abadi. Bahkan Tuhan tidak lebih dari direktur
yang mendapatkan investasi dari kaum kapitalis, yang setiap saat bisa saja diperjual
belikan.
Bukan lagi hal
yang asing kita dengar, manusia sudah kehilangan esensi kehidupan mereka.
Terlena akan hingar bingarnya dunia sehingga mereka takut mati. Rutinitas
pemuda dulu sangat berbeda dengan kebiasaan pemuda zaman sekarang (kids zaman
now). Kalaupun dulu kebiasaan pemuda adalah mengaji di waktu sore dan
senantiasa gotong royong, sekarang sudah berbalik arah. Tindakan asusila remaja
semakin meraja lela, bahkan dalam beberapa pertemuan dikenal dengam istilah PEKAT
(Penyakit Masyarakat). Arus sekularisasi dan liberalisasi kini menjadi
perhatian umum, bahkan disebagian kota di Indonesia termasuk di Yogyakarta
menjadi perhatian khusus. Polisi menjadi sasaran empuk, bahkan menjadi sasaran
tuduhan karena tidak mampu membasmi dan menyelesaikan PEKAT. Kebanyakan
masyarakat juga beranggapan bahwa mereka (polisi) adalah salah satu pelaku
utamanya, katakanlah toge pada saat bulan Ramadhan. Mereka yang berantas
perjudian, ternyata mereka jugalah pelaku perjudian, ibarat lintah daratan lupa
ingatan.
Agak
menggelitikan juga ketika kita melihat tontonan di Televisi dalam negeri dimana
seorang ustad menjadi bintang iklan. Seakan-akan ketika ustad yang menjadi
bintang iklan suatu barang itu dapat membawanya seperti ustad itu sendiri,
padahal tidak saudaraku. Sedikit lebihnya semakin miris melihat
pelatihan-pelatihan agama yang marak terjadi, dengan biaya yang tak tanggung,
melampaui pelatihan yang biasa di tawarkan. Iming-iming pelatihan tersebut akan
memberikan kedamaian batin ketika mendalaminya, bahkan di iming-imingi akan
mengantarkan kita ke jannahNya, namun itu hanya sekedar retorika dusta untuk
mengelabui sasarannya. Ini belum termasuk supermarket, alat dan produk yang mengatas
namakan dan menjadikan Islam sebagai label penjualan.
Khutbah dan
dzikir kolektif yang palsu sering kita jumpai di sosial media. Dibalik
retorikanya yang konyol, intonasi kata yang menjebak, penyapaian yang
menggebu-gebu terdapat kepentingan partikular yang ingin Ia capai. Di Sakunya
terdapat dua hp sejuta ummat, kilauan dan kemewahan yang tampak mahal. Dirinya
sibuk kesana kemari untuk mengisi rumah- rumah pejabat dan di beberapa stasiun
televisi nasional. Ia adalah rohaniawan muda yang sedang naik daun dan memiliki
karir yang menanjak, jam terbang cukup tinggi, terkenal dimana-mana dan itu
sebabnya pengahasilanya cukup banyak dan menggiurkan. Dakwahnya riang, konyol
bahkan tak segan-segan mengeluarkan bahasa-bahasa gaul anak muda. Dia adalah
rohaniawan muda yg mewakili generasi da'i: Cerdas, fasih baca Quran dan selalu
mendorong orang berbuat yang ma'ruf. Dia sudah seperti selebriti spiritual.
Walau ada juga
ulama yang tampil sederhana dan apa adanya. Sejumlah kisah anak muda yang
mencurahkan hidup agar tegaknya agama Islam di bumi. Mulai dari perjuangannya melawan
tantangan dan ujian hidup sampai di terjang badai sekalipun, dia tetap berjuang
dalam keadaannya yang miskin dan berani. Hal ini berbanding terbalik dengan
kondisi lingkungan pesantren di Indonesia. Pesantren yang dulunya menghasilkan
pemikir, pejuang dan penyair-penyair handal kini hanya sebatas kenangan. Hasrat
untuk melakukan pembaharuan kurikulum dan mendapatkan dana fantastis mereka
rela pesantren dijadikan bahan uji coba untuk melampiaskan keinginan segelintir
manusia.
Banyak hal
yang kemudian muncul tentang islam ditengah keadaan bangsa yang sedang carut
marut. Islam di Indonesia berangsur-angsur kehilangan naluri sebagai rahmatan lil'alamin dan gerakan sosial.
Agama yang sebenarnya dijadikan jembatan untuk mencapai ridho dan syurga-Nya
malah dijadikan batu loncatan untuk menggapai kepertingan segelintir orang.
Lihat saja mulai dari dunia pendidikan, politik, dunia maya di jadikan sebagai
ladang untuk mengeksploitasi harta dan tahta sekelompok manusia yang tak pantas
mendapat gelar khalifah di muka bumi. Katakanlah pada tahun 2005 program
religius dari beberapa stasiun televisi nasional mendapatkan apresiasi karena
banyak peminat dari acara tersebut. Dari pagi sampai pagi kembali program di
beberapa stasiun televisi di isi dengan program religi yang menggambarkan wajah
syurga dan neraka. Kataklah acara Rahasia Ilahi di channel TPI, takdir Ilahi di
TPI, Astagfirullah di SCTV dan masih banyak lagi acara yang berlabel agama.
Orang awam akan mengatakan ini hal yang biasa, namun ketika di kaji di balik
peristiwa itu ada konspirasi yang terjadi. Di khalayak umum agama ditampilkan,
namun di balik layar para predator dunia berperang untuk mendapatkan
lembaran-lembaran rupiah. Agama kini telah diperjualbelikan, agama berada di
antara gama-gama, Tidak ada lagi yang tersisa kecuali degradasi. Semua ini
terjadi bukan tanpa sebab, melainkan karena hilangnya kesadaran dan hilangnya
naluri dalam beragama.
Lalu dimana
peran para ustad, ulama, para pemikir islam? Apakah mereka hanya sibuk mengisi
mimbar-mimbar di masjid, atau hanya sekedar memberikan fatwa halal haram serta
mengatakan korupsi itu dosa. Gerakan islam dimana mereka berada? Apakah sekedar
memberantas dan menutup tempat hiburan malam dan diskotik kalau bulan Ramadhan,
yang seakan-akan bulan selain bulan Ramadhan itu bisa diberikan toleransi untuk
dijalankan di negeri ini. Sungguh miris dan menyedihkan, kalau peran para ulama
hanya berkutib di wilayah situ tanpa menghirauan keadaan di sekitarnya, maka
yakin dan percaya agama islam di Indonesia seiring berjalannya waktu hanya
dijadikan sebatas mitos-mitos, cerita-cerita sakral.
Persis seperti
apa yang di khawatirkan oleh kaum marxis bahwa negara hanya dijadikan sebagai
panitia bagi kepentingan-kepentingan para politii yang berjubah agama. Maka tak
salah kalau hari ini orang banyak membenarkan perkataan Karl Max bahwa Agama
adalah candu kehidupan. Tidak ada lagi kedamaian, tidak ada lagi ketenangan,
yang tersisa hanyalah peperangan. Kini agama hanya berada ditangan komplotan
yang menyembunyikan firman sesuai pesanan dan kehendak pasaran.
Maka tulisan
ini adalah jalan untuk mengajak kepada lapisan masyarakat agar memikirkan
kembali bagaimana menyikapi ancaman perebutan kekuasaan yang mengatas namakan
Tuhan. Bangkit dan sadarlah wahai saudaraku, ternyata kita berada ditengah
pusaran mafia dan predator yang mengatas namakan agama sebagai jalan untuk
mencapai kepentingan pribadi mereka.
Semoga kitalah
orang yang disebutkan oleh sang ploklamator sejati, Bapak Soekarno yang
mengatakan bahwa "kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih
hidup dimasa pancaroba. Jadi tetaplah semangat rlang rajawali"
Selamat
berjuang,
My Hijrah My
Adventure
Makassar, 17
Nov 2017
