Senin, 12 Februari 2018

TUHAN! Kami Tidak Butuh Popularitas





Oleh IMMawan Muhammad Nursalam
(Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar)

Diam bukan berarti mati, bergerak belum tentu maju. Katakanlah inilah Aku yang sebenarnya.
                                                                                   
Sengaja berdiam dalam penjara literasi tidak menjadikan kita kaku dalam menerjemahkan zaman. Hari selalu ingin kugoreskan sebaris kata di atas lembaran kertas yang hampa akan cerita. Goresan ini bukanlah tanda lahirnya kebahagiaan, tanda akan datang hari jadi maupun milad, karena manisnya berikatan bukan dilihat dari seberapa banyak orang yang menyorakkan “I'am Happy”. Esensi manisnya berikatan ketika kita mampu terus berjuang, terus berkarya tanpa tempo, sampai Tuhan mengatakan "Ayo Kembali"

Tidak terasa waktu begitu cepat, bergerak seperti kilat.  Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tanda akan lahirnya tantangan baru. Kita bukanlah lagi seorang anak ingusan yang tak kenal huruf dan angka. Kita bukanlah remaja yang terjangkit rindu dan romantisme. Kita adalah pemuda-pemuda yang hidup di tengah gemerlap dan fananya dunia. Di atas pundakmu Allah menaruh kepercayaan agar kita bisa menjadi wakil Allah di muka Bumi. Bukan sebaliknya, menjadi pecandu akan hingar bingar kehidupan dunia.

Suatu kebahagiaan bertemu sapa dengan kaum elit, apalagi menginternalisasikan popularitas dan nilai-nilai yang disampaikan.  Layaknya memetik bintang di tengah gelapnya malam dan rimbunnya dedaunan. Suatu pengharapan agar bisa berdialektika lebih jauh dengan mereka.  Kami berharap mampu menggapai dan memeluknya. Pancaran dan pembiasan cahayanya sedikit lebihnya memberikan warna baru dalam kehidupan kami. Pancaran cahaya seakan-akan tubuh inilah yang mengelurkan sinar tanpa batas, begitupun naluri ilmiah kehidupan manusia. Hidup dengan penuh dengan perayaan, popularitas, hura-hura, bangga akan jabatan, namun lupa untuk merefleksikan diri dan dari mana kita berasal.

Senada dengan yang telah diuraikan di atas, berdialektika dengan kaum elit merupakan momentum memperbaiki diri. Bukan untuk melampiaskan ambiusitas kepopuleran menduduki kursi panas kelembagaan, akan tetapi harus dijadikan bahan evaluasi kualitas diri.

Sekarang bukan bicara siapa yang tua dan siapa yang muda, siapa berbicara dan siapa yang mendengar.  Salah satu yang mesti kita perhatikan adalah sejauh mana kualitas diri kita.  Caranya sederhana, hanya dengan menentukan mana manhajnya, apakah masih berpegang teguh di atas Al Quran dan As Sunnah atau manhaj penuh dengan perkara yang syubhat. Dengan pemahaman agama yang benar tanpa diselipkan pemikiran syubhat dan sekuler, maka kita mampu mengintegrasikan massa dengan menejemen yang baik.  Semua itu akan mampu kita interpretasikan sesuai apa yang kita jalani sekarang.

Dunia tak begitu luas, daun kelor tak begitu lebar,  namun kita senantisa memperebutkannya. Degradasi moral dan sensifitas perasaan menjadi hal lumrah terjadi zaman sekarang. Perekat kayu dijadikan sebagai obat pengantar tidur, obat batuk dijadikan obat penenang jiwa serta pengawet dijadikan bahan pesta malam. Bukan tanpa alasan, namun semua terjadi seiring bekembang pesatnya media dan teknologi.

Sebab utama penurunan kualitas keilmuan, integritas dan militansi seseorang dipandang masyarakat adalah media. Sebab sekarang masyarakat tidak mengenal siapa,  dimana, jabatan dan apa yang kita lakukan. Kualitas diri seseorang dianggap lemah ketika tidak mampu berperang gagasan, retorika serta penampilan di dunia maya. Seakan akan keberhasilan suatu karya dapat di ukur sejauh mana popularitas dan eksistensi seseorang di dunia maya. Perkembangan media dan teknologi kian hari semakin mengendong dan meninabobokan pergerakan kita yang sebatas bergerak di dunia maya. Tentu ini menjadi peristiwa yang cukup miris, mengingat di zaman modern semua bisa dipalsukan. Opini bisa menjadi fakta, teorema menjadi aksioma bahkan Hantu bisa menjadi Tuhan.

Kisah perjalananan Rasulullah SAW telah mengajarkan kita arti sebuah kehidupan. Mereka telah memberikan pijakan terpadu, tangga yang telah tersusun rapi dan elegan. Andai kata kita bisa melompat jauh, bejalan melewati jalan pintas, naik di mimbar menyampaikan Khotbah serta naik di atas panggung untuk pesta, niscaya semua akan tahu bagaimana kebusukan yang kita miliki. Hidup tak semudah seperti apa yang kita pikirkan, tidak semudah membalikan telapak tangan.  Mereka yang melewati jalan pintas dengan tergesa gesa akan merobohkan panggung pentas yang mereka bangun sendiri. Kenapa? Karena esensi dari perjuangan bukankan nama dan jabatan, namun kebahagiaan dan kebersamaan di dalam perjalanan kita. Kebahagiaan itu muncul bukan karena popularitas, namun hasil karya tak henti kita buktikan.

Jargon dan gaungan Fastabiqul Khairat yang senantiasa bergema telah mengubah cara pandang dari kaum Selfiers dan Gauliers untuk lebih visioner.  Mencoba mengajak berpikir rasional dan mencoba merenungkan sebesar apa kekuatan  kita merevolusi diri. Mereka yang dulu nya memperlihatkan kehidupannya di dunia maya, kemudian mulai dipoles dengan lebih baik.

Zaman yang hingar bingar banyak menawarkan popularitas, pencitraan dan sejuta pesona yang penuh kepalsuan, seperti sekarang ini aktivis harus tetap konsisten menjaga janji sucinya dalam menjalankan risalah kenabian. Esensi dari perjuangan bukan sejauh mana keepikan kita dalam beragumentasi dan selantang apa kita berorasi di jalan raya. Sebab apa?  Karena perjuangan tak sekedar apologi. Tidak perlu kata kata pemanis, tidak mesti ada kata kata romantis,  yang penting kerja nyata yang menghasilkan sebuah karya yang fantastik.

Untuk berkhayal, banyak orang yang merasa mudah melakukannya, Tetapi tidak semua khayalan itu  akan  terukir dalam lukiskan dengan penuh tinta emas. Banyak orang yang mampu mengungkapkan dengan kata-kata, Tetapi dari mereka sedikit yang mampu mengamalkannya. Dengan konsistensi dan komitmen yang tinggi dalam bentuk amal akan mampu kita bandingkan,  orang yang kuat menanggung beban dakwah dan amal yang serius. Tentu tidak mudah saudaraku, pertentangan akal dan nasfu,  pertarungan serta kepentingan Invidivu dan kebutuhan ummat harus mampu kita pertegas. Sebab apa?  Berjuang tak sekedar kita menyampaikan dan selesai, namun ada tanggung jawab yang harus kita kerjakan dan selesaikan.

Tapi entahlah, logika liar pramatik menduga-duga sedemikian rupa sehingga kekecewaanpun terjadi, bahkan barangkali sangat benar adanya kita hanya ingin memeperkenalkan nama di ruang publik agar tahu siapa kita. Yang jelas selama berada dalam medan perang, tidak ada istilah berleha-leha pinggir pantai yang ditemani es jeruk dan buah segar. Beberapa hal yang akan kita temukan adalah solidaritas, kekecewaan dan kebahagian bercampur menjadi satu yang utuh.

Kebahagiaan dan kekecewaan itu adalah sebuah keniscayaan. Mahasiswa tidak boleh terpaku di wilayah jabatan yang fana. Gelar dan jabatan bukanlah menjadi penentu sebuah peradaban. Keberhasilan dan kejayaan itu akan lahir seiring pergerakan dari predator intelektual yang khas dengan jiwa integritas dan militansinya. Gelar dan jabatan hanya sebagai salah satu jalan untuk sampai ke puncak kejayaan, bukan satu satunya jalan yang harus kita tempuh.

Segala perjuangan semata-mata karena sang Khaliq, bukan untuk abdul khaliq atau karena popularitas dan ketenaran. Harta, tenaga dan pikiran mutlak di korbankan oleh setiap insan yang paham tugas dan kewajibannya sebagai Creator Of Change. Tak menuntut balasan, tak perlu jabatan maupun emas dan berlian, yang di butuhkan hanyalah sedikit senyuman dari  sahabat seperjuangan. Hari berganti, musim telah berubah mampu tunjukan arti persahabatan. Banyak yang telah dirasakan dan dilalui bersama, hingga akhirnya bisa memahami. Namun satu hal yang pasti, jiwa dan rasa tak pernah berdusta. Hujan, panas terik mentari menjadikan setiap langkah mampu terus berjalan untuk berjuang. Tangisan, deraian air mata hanya untuk tetap berada di jalan-Nya.

Duri, beling maupun badai tak diperpedulikan untuk menegakkan kebenaran dalam kegelapan, karena kita tahu segala perkataan dan perbuatan akan pertanggungjawabkan di ahirat kelak, bukan hanya di dunia. Bukan intelelektualitas maupun ketenaran seseorang yg dibutuhkan, tapi kesabaran, komitmen, kebersamaan dan usahalah yg kita butuhkan, sehingga tidak akan ada kata mustahil untuk kita lakukan.

Betapapun sulitnya perjalanmu, tetaplah setia kepada kebaikan yang ada di dalam hatimu. Semoga kita tetap di istiqomahkan untuk berada di jalan-Nya. Aamiin

My Hijrah My Adventure
Makassar, 10 Februari 2018

TUHAN! Kami Tidak Butuh Popularitas

Oleh IMMawan Muhammad Nursalam ( Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar) Diam bukan berarti mati, bergerak belum tentu ...