Selasa, 22 Agustus 2017

Inteletual Organik



Berani Bepikir Visioner: Kader IMM sebagai Creative Minority

Oleh IMMawan Muhammad Nursalam
(Kabider PIKOM IMM FKIP 2017-2018)



Anak negeri tak ingin ada tirani
Apalagi oleh bangsa sendiri
Menyandera hak azazi
Pembiaran sama saja dengan mati 8suri
Hidup tak lagi berarti
Pengkerdilan generasi telah terjadi

Tak satu pun berani sebagai oposisi
Kecuali mahasiswa dan aktivis pro demokrasi
Susun strategi melalui kampus perguruan tinggi
Menyadarkan generasi hari demi hari
Mengangkat tangan kepalkan jari
Serukan slogan penyatu aksi
Lawan..! Lawan...! Lawan..!
Terdengar di seluruh negeri

Gerakan terkonsolidasi
Mahasiswa turun ke jalan setiap hari
Rakyat mendukung sepenuh hati
Lakukan aksi berhadapan dengan ABRI
Moncong senjata mengintai semua sisi
Namun tekad tak surut sama sekali

(Karya Arka'a)


Bangkitlah Wahai Sang Aktor Peradaban....
Bangkit dan tunjukan taring mu kepada dunia...
Bangkitlah... 

Bangkit adalah kata yang mendesklarasikan semangat juang dr para pejuang kebenaran, perjuangan yang menggabarkan bagaimana kepedulian kita terhadap untuk umat dan bangsa dari kebobrokan regulasi yang diterapkan sekarang. Hari ini coba kita reflesikansejauh mana kontribusi IMM terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa, khusus nya di internal Muhammadiyah itu sendiri. IMM adalah gerakan amal Ma'ruf Nahi Mungkar, pelopor, pelangsung dan penyempurna dr amal usaha yang telah diperjuangkan oleh Sang Pendekar Pencerahan, Muhammadiyah. IMM tidak boleh menjadi gerakan yang terkungkung pada rutinitas atau program - ptogram tahun-tahun sebelumnya, IMM harus menjadi yang terdepan dalam mengembamgkan dan memajukan Bangsa. IMM lahir dari rahim Muhammadiyah bukanlah hanya untuk menjadi pencerah dikalangan umat islam. Tapi IMM lahir sebagai stabilitator dari buruknya sistem ketatanegaraan kebangsaan pada waktu itu. Jadi jangan heran jikalau hari ini banyak pihak luar mempertanyakan "Apa Bentuk gerakan IMM hari ini??? Apakah sibuk mencetak kader ustadz, kader persyarikatan??? "" ho ho ho, onde mande, pertanyaan yang manis layaknya sarang lebah yang tak berisi madu, indah tapi menusuk dalam jiwa ini. Tentunya hal ini tidak boleh di biarkan begitu saja, harus ada sikap sebagai bentuk respon IMM terhadap asumsi dari pihak luar yang menjadi pertanyaan besar di internal IMM. 

IMM sebagai anak kandung dari Muhammadiyah perlu berbenah diri, apakah masih pantas mendapat gelar pelopor atau tidak. Sehingga untuk mereflesikan Muhammadiyah hari ini, maka IMM lah yang menjadi barometer penuh untuk melihat bagaimana nasib Muhammadiyah kedepan. Gerakan, ideologi dan cara berpikir kader IMM memjadi salah satu indikator bagaimana wajah Muhammadiyah beberapa tahun kedepan. Kader IMM harus mampu melahirkan gagasan-gagasan solutif dan bergerak aktif, Sehingga tidak IMM terjebak dalam rutinitas yang tidak substansial.
Kalaupun hari ini kita berada di zaman teknologi, manusia-manusia yang disebut sebagai generasi Z harus mampu menerjemahkan posisi dan sarana yang ada sekarang. Gerakan yang kreatif dan inovatif menjadi bumbu dalam setiap aktivitas, sehingga jangan heran hari ini kita di tuntut untuk berpikir cerdas dan bekerja keras. 

Menjadi pelopor bukanlah hal yang mudah untuk di aktualisasikan, perlu namanya pembinanaan intensif dan konstruktif jikalau ingin target bisa dicapai. Gagasan, ide dari kader imm harus barbau solutif dan membangun, sehingga orang bisa tersadarkan bagaimana akselerasi zaman sekarang. 

Hari ini saya coba menggoreskan sebuah karya yang berawal dari keresahan jiwa dalam melihat realitas dan tantangan di kampus biru. IMM yang dikenal sebagai anak kandung Muhammadiyah tumbang karena persoalan amal usaha dari sang Induk Muhammadiyah. Ibarat kita adalah segerombolan orang yang bertamu di rumah sendiri, team dari kaum separatis tertawa riang melihat kemunduran kita, dan anehnya kita sadar akan hal itu namun tak mau bertindak untuk keluar dari keterpurukan (kesadaran naif). Oleh karena itulah kader IMM harus menjadi aktor dalam perubahan, karena pada dasarnya kita memiliki tanggung jawab sebagai Creator Of Change dalam menginterpretasikan fenomena sosial. IMM harus menjadi lokomotif perubahan dalam masyarakat, minimal membawa perubahan di masyarakat kampus. Sehingga saya berani mengatakan kader IMM harus berpikir visioner, berani berpikir cerdas dan menjadikan IMM sebagai Creative Minority. Ya, kata yang tidak asing lagi di telinga kita para aktor dan pecinta perubahan. 

Minoritas Kreatif adalah mereka yang memiliki idealisme dan kecerdasan untuk berpikir panjang dan luas mengenai masa depan. Dalam pidatonya Bapak Andi Malarangeng (eks Menpora) mengatakan "kreatif minoritas adalah inti suatu gerakan, dimana-mana penggagas ide adalah kelompok kecil, sehingga parameternya sejauh mana ide ide dapat di terima di Masyarakat". Kreatif minoritas biasa diterapkan dalam memperkenalkan suatu organisasi, interpreneur dan rekuitment kader. Nah, kalau perekrutan kader sendiri tentunya kita juga memiliki rival atau kompetitor. Bisa jadi gerakan mahasiswa lain, bahkan lembaga dakwah kampus. Tentunya strategi yang kita rancang harus berbeda dengan rival kita agar hasil rekrutmen kita optimal.


Maka dari itu perlu ada namanya kesadaran dalam diri setiap kader, perlu di tegakkan konsep kolektif kolegial serta kerja sama team yang saling berbagi kesenangan dan kesedihan. 

Satu tujuan, satu visi, satu misi
Kita tidak berdiri sendiri
Kita punya tujuan hakiki
Kita punya TRILOGI:

Ayo sama sama bergerak saudaraku, yakinlah bahwa kita mampu, kita bisa, kita pasti bisa. Kita akan raih bintang-bintang yang terbentang di langit. Jangan pernah ragu, Kita bisa jadi yang terdepan, ketika kita bersatu bersama dalam satu irama untuk IMM maka, percayalah kita pasti dapat meraihnya. Ulurkan tanganmu, Genggamlah tanganku, kita pasti bisa saudaraku untuk terbang meraih kejayaan, kita bisa! Kita pasti Bisa

Ayo Bergerak!!!

My Hijrah My Adventure
Makassar, 22 Agustus 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUHAN! Kami Tidak Butuh Popularitas

Oleh IMMawan Muhammad Nursalam ( Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar) Diam bukan berarti mati, bergerak belum tentu ...