Derita "KOMA" berkepanjangan: Kader dalam
cengkraman ilusinasi
Oleh: immawan Muhammad Nursalam
(Ketua Bidang Kader Pikom IMM FKIP)
(Ketua Bidang Kader Pikom IMM FKIP)
Sejarah adalah kata sederhana yang syarat akan makna, padat
namun memiliki arti yang luas. Sejarah bukanlah untaian kenangan yang kosong.
Sejarah adalah pembelajaran yang menentukan arah transformasi kita kedepan.
Kalau hari ini saja kita sudah berani melupakan sejarah, akan jadi bangsa ini
kedepan. Tidak bisa di pungkiri bahwa sejarah bukan penentu mutlak masa depan,
namun peran sejarah sedikit lebihnya mampu menyadarkan kepada kita tentang apa
yang harus kita lakukan demgan pengalaman empirik yg dilalui. Apakah dirimu tak
berpikir jikalau anda melupakan sejarah akan ada aktor yang akan memanipulasi
goresan keemasan yang pernah di ukir dan di ganti dengan mencengkol sejarah
baru yang penuh dengan konspirasi dan pendustaan. Bukan hal yang asing lagi
kalau kita uarikan persoalan hegemoni, intervensi dan propaganda, beberapa itu
begitu familiar di telinga kita yang kian pasti akan terkubur ibarat ikan gabus
dalam gumpalan lumpur yang sudah mengering.
Di saat masyarakat Indonesia mulai kehilangan alasan untuk
mencintai negaranya (Nasionalisme) karena banyaknya aktifitas sosial yg kian
lama semakin mencekram para kaum marjinal, korupsi, kolusi, polusi, dan
nepotisme menjadi hiasan kehidupan, sehingga sadar atau tidak sadar suara
perlawanan semakin bergema tanda adanya sebuah gerakan. Adanya inisiatif dengan
muncul seruan-seruan yang ‘membangunkan’ rakyat yang lesu agar bangun, sadar, dan
mau bergerak dalam keadaan yang terjadi disekitarnya.
Berawal dari sensasi berbeda saat menyanyikan lagu indonesia
raya akan berdampak bagaimana kita mampu menginterprearasikan jiwa-jiwa patriot
dan nasionalis dalam berbangsa. Sorakan dari sudut stadion akan berbeda dengan
sorakan lagu di medan perang dan tempat upacara yang kian lama semakin hilang
dari esensinya sebagai syair pembangkit semangat dalam merefrlesikan perjuangan
para pejuang kala itu. Begitu pula jikalau kita tarik dalam konteks kepemimpinan
dalam ikatan, Sensani dalam menerjemahkan identitas kader semakin pupus tanpa
adanya sebuah tindakan. Langit yang dulunya cerah tanpa awan, pemandangan yang
menyejukan hati sekarang hnya sebatas angan angan. Jikalau kita pandang langit
penuh dengan debu, jikalau kita lihat awan begitu hitam pekat tanda bobroknya
kehiupan dunia. Jikalau pandang bumi akan terlihat bagaimana bumi penuh duka
dan kebencian yg tentunya jikalau sekarang anda melihat bunga, hampir bisa
dibayangkan semua layu pertanda hilangnya esensi dan eksistensi kehidupan. Maka
apalagi yang bisa kita harapkan, tidak ada kesenangan, yang ada yang lawan dan
perlawanan. Tidak ada lagi kedamaian, yang ada hanya pertumpahan darah yg
mengalir tanpa arah.
Identitas kader dalam ikatan adalah suatu keniscayaan,
tindakan dan pergerakan adalah suatu hal yanh mutlak tuk kita jalani. Jangan
heran bila hari ini identitas sebagai seorang kader perlu kita pertanyakan
kembali. Mengapa tidak, sifat militansi, integritas dan progresifitas kader
kian hilang ditelan masa.
Langit merona merah jingga, Membentang luas sepanjang sudut Cakrawala.
Langit merona merah jingga, Membentang luas sepanjang sudut Cakrawala.
Kader yang dulu pro aktif dalam menyuarakan keadilan dan
kesejahteraan pupus hanya karena terkubur dalam dunia nyamannya. Sifat
komsumtif dan kaku menjadi pajangan dalam karir yang sedang mereka jalani,
mereka takut untuk berkorban, harta, tenaga lebih mereka arahkan untuk mencapai
kepentingan partikularnya di banding kepentingan bersama. Hari ini, sorot sang
fajar tak hanya memuram di timur, tapi dia menjamur disepanjang bangunan.
Potret hari ini menunjukan tombak peradaban bernama
akademisi islam itu kini kian rapuh. Musuh terbesar gerakan mahasiswa hari ini
adalah apatisme, entah itu mereka yang memang apatis, atau mereka yang memilih
untuk apatis. Invasi globalisasi dan hedonisme kian hari semakin menggerogoti
tubuh dan pikiran mahasiswa.
Dari situlah muncul keinginan dalam diri kita untuk sama
sama menjadi salah seorang yang aktif mempromosikan sisi positif dari mahasiswa
lebih khususnya kader di mata kampus dan masyarakat, khususnya generasi muda yg
lalai dari tanggung jawabnya sebagai creator of change.
Kader harus mampu ikut andil dalam menjalankan tugas
mulianya dalam kondisi akselerasi zaman yang semakin mencekam pergerakan
mahasiswa, sehingga bukan hanya sekedar wacana dan pintar beretorika saja,
namun perlu namanya tindakan praksis sebagai bentuk manifestasi integritas yang
dimiliki. Selanjutnya, kader harus mengekplorasi potensi yang mereka miliki,
karya demi karya harus ia telurkan. Antara lain dengan cara melestarikan budaya
literasi, mulai membaca, diskusi hingga menulis berdasar gagasan yang
dilmiliki. Bukankah peradaban lahir karena bacaan, sehingga betul yang sering
di sampaikan oleh Ketua Umum PIKOM IMM FKIP yang menyatakan bahwa "Dikala
kita sendiri kita membaca, dikala kita berdua kita berdiskusi dan dikala kita
bertiga kita beraksi"( Muh. S'yaban).
Fenomena Alam telah menggambarkan kepada kita
masalah-masalah yang konterporer ini terjadi, sehingga hutan mengajarkan kepada
kita bagaimana harus hidup dalam kegelapan. Pesan untuk anda para tombak
peradaban, ukirlah sejarahmu dengan cara yang bijak. Goreskanlah penamu di atas
kertas putih yang berisikan kebaikan dan kebenaran. Tidak akan ada perubahan
dan kemajuan tanpa adanya suatu pengorbanan. Hari ini anda punya hak dan
wewenang untuk mengukir sejarahmu, tujuan mu didepan bukan samping atau
diblakang. Jadi manfaatkanlah kesempatan yang telah diberikan, karena waktu mu
terlalu singkat untuk dapat berekspresi.
Tunjukanlah
Ekspresi terbaikmu
Salam Semangat Juang
Makassar, 11 Agustus 2017 M
#My
Hijrah My Adventure

Kanda terbaik dimasanya.
BalasHapus👍👍👍
BalasHapusKalianlah yang akan melanjutkan dinda,
BalasHapusBuatlah sejarah kalian selama kalian masih bisa berwkspresi di ikatan.
Periode ta terlalu singkat utk bnyak berekspresi