Jumat, 21 Juli 2017

Kritikan tak segurih kripik? Bongkar!!!







Oleh Immawan Muhammad Nursalam
(Kabider Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar)

Popularitas merupakan kata yang cukup familiar kita dengar, kata yang dapat mewakili tantangan zaman modern ini. Dunia yang hingar bingar menjadikan kita pantas kita katakan karang diantara beautifull fish dan lautan, dunia yang seakan menjadi lagu pengantar yg menina bobokan manusia. Kerasnya kehidupan menuntut kita agar mampu berpikir cerdas, akselerasi zaman harus mampu kita interprestasikan agar mampu menempatkan diri kita tetap berada diwilayah orang orang yang bijak.
Sejarah telah mencatat bahwa manusia dari periode Nubuwah sampai dengan periode yg penuh kemaksiatan ini telah berhasil mengekspresikan diri mereka sesuai kapasitas rasio yg dimiliki, dengan hal ini pulalalah mampu menggambarkan kepada kita sedzolim apa manusia, secerdas apa iblis serta sepatut apa malaikat dalam menerjemahkan kehidupan yang fana ini. Bisa jadi selama ini kita hanya terbaring kaku melihat realitas sosial yang terjadi, bisa jadi intrumens kulit, pendengaran, penciuaman seakan gagal arah akibat otoritas akal, sehingga sadar atau tidak sadar kita lupa esensi manusia sebagai seorang hamba yang sejati harus bertaqarrub illallah.
Kita telah melewati berbagai periode, mulai periode kebahagiaan masa kanak-kanak sampai periode dimana kita di didik layaknya anak-anak (boneka di antara robotika). Tentunya akan berbeda situasi dimasa awal kita bahagia dan sekarang yang seolah-olah dibahagiakan. Era demokrasi telah membawa banyak perubahaan dan kalau intelektual islam kaku dan tidak responsif atas situasi saat ini, maka kita akan kehilangan karakter sebagai creator of change dan iron stok islam yg akan menegakkan ajaran islam di Bumi.
Era ini ditandai dengan kemajuan tehknologi informasi yang membuat akses mudah dan cepat. Disatu sisi kemajuan itu telah merubah mindset berpikir dan pola perilaku manusai akan pesatnya media sosial. Tentunya dari sekarang kita harus mampu mempersiapkan generasi untuk melintasi zaman bukan sekedar menjalan kehidupan ini dengan menghabiskan jatah umur.
Semakin maju zaman, maka akan semakin tingkat peradaban dan kebidayaan manusia. Semakin tinggi otoritas intelektual manusia, lambat laun tapi pasti manusia merasa bahwa merekalah yang mengendalikan dan mengatur dunia, bukan agama dan bukan pula Tuhan, tpi hanya dengan kekuatan akal manusia. Dengan akal dan nafsu pula manusia merasa dirinyalah yang paling benar, paling pintar, cerdas dan bijaksana, meski dia tidak pernah sadar semakin berilmu manusia maka akan semakin tunduk pada aturan. Diskusi, musyawarah, dialog serta perdebatan menjadi hiasan tersendiri dibalik duri yang merambat dalam tebing, kritik dan saling menjatuhkan seakan menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Sehingga orang umunya menyatakan bahwa saran, nasehat serta kritikan mampu menjatuhkan kemuliaan dan kewibawaan kita.
Persepsi kita terhadap kritikan akan lebih baiik kita tanamkan dalam diri kita bhwa itu penting. Sahabat, apa yang terlintas pikiran anda jikalau saya mengatakan "Saya ingin mengkritik anda, siapkah anda untuk saya koreksi?". Kira-kira bagaimana respon anda. Apakah anda akan senyum menatap saya seraya berkata "Ohhh yeahh, of course".??? Tidak bukan, kritikan tidak seperti itu. Namun biasa kata-kata ini seakan akan menjatuhkan harga diri kita yang dikritik, merendahkan derajat dan lain sebagainya. Maka wajar jika reaksi yg mncul itu sulit menerima, berkomentar serta melakukan pembelaan diri. Tentu sangat disayangkan bukan, mengingat saran dan kritikan itu perlu untuk kita dengarkan.
Sebaliknya kita tawarkan kripik kepada orang yang sama, apakah dia akan memberikan respon yang serupa??? Tentu tidak sahabat, tentunya dia akan memberikan respon yg sempurna dengam penuh senyuman dan kebahagiaan. Tentu kebahagiaannya dan mata berseri-seri itu pula dia mengatakan "Ohhh yeah, Thank you very much Friends". Ohhhhh Noooo, sangat kontradiksi dengan pertanyaan yang pertama bukan. Hal ini yang memberikan tamparan lepada saya untuk menggoreskan beberapa kata dengan tujuannya satu, agar kita senantiasa perpikir positif terhadap kondisi yang ada didepan mata kita.
Ya Akhi, sebenarnya dalam proses yang kita jalani sekarang (Berikatan/Berlembaga) tidak bisa terlepas dengan dinamika sosial dan dinamika kelembagaan yang semakin maju zaman maka seiring itu pula semakin sulit tantangnya. Sorakan dari samping kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah dan seluruh arah mata angin seakan menjadi bumbu dalam kehidupan berikatan. Mulai dari kritikan yang kecil (Personal) sampai kritikan yang bersifat kompleks (Kelembagaan), tentunya hal ini ibarat dua mata uang logam yang sisi-sisinya memiliki makna. Dalam berikatan sendiri sering kali kita memdapatkan cacian, kritikan pedas, di bilang sok sucilah, perbaiki dulu diri lah, bahkan beberapa hal yang sedikit lebihnya membuat suhu badan kita cenderung naik. Namun sebagai intelktual muda islam yang sekaligus sebagai umat Muhammad Saw, tentunya akan berbeda dalam memberikan respon. Mengapa tidak, Kita memiliki hak dan wewenang penuh untuk mengontrol perasaan kita, entah mau kita arahkan ke arah yang positif atau negatif.
Allah telah menegaskan dalam firmanNya

وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖ ۚ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ

Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar. [QS. An-Nahl: Ayat 126]
Rasulullah Saw merupakan suri tauladan bagi umat manusia, jadi wajarlah dia memiliki ahlak yang mulia. Banyaknya kritikan, saran beliau jadikan sebagai motivasi. Beliau mampu mengevaluasi secara rasional kritik dan menegaskan tanggung jawab sebagai seorang hamba. Sudah barang tentu kita seyogyanya mampu memgamalkan apa yang telah Rasul kita contohkan.
Perbedaan yg sangat signifikan antara kritik dengan kripik. Masalahnya, Kenapa hrus munculkan hal yg berbeda padahal memiliki point yang sama untuk memenuhi kebutuhan kita. Hal ini yang harus mampu kita benahi, mulai dari sekarang. Karena langkah pertama kita akan menetukan langkah keseribu kita, kalau hari ini mindset berpikir kita masih dalam kekonyolan, menganggap saran, nasehat dan kritikan itu merendahkan, Bongkar!!! Sebab itu sama halnya kita ingin ada perubahan dan kemajuan dalam diri kita. Rene Descartes pernah berkata bahwa "Hidup yang tak direflesikan tak pantas untuk dijalani" dan ini serupa dengar pandangan kaum komunis dengan teori materialisme dialektika yang mengatakan "tidak ada kemajuan tanpa peperangan (Pertentangan)". Kalaupun kita ingin merasakan kemajuan dalam diri kita, maka berlapang dada lah ketika ada kritikan😀
Dalam menerima kritik memerlukan trik, sehingga menjadi sarana membangun kemuliaan di sisi Allah Swt, dalam pengkajiannya Ust. Aa Gym beliau menyampaikan beberapa trik dalam menyikapi kritikan dan saran
Pertama, rindukan kritikan dan nasihat layaknya kita bercermin agar dapat megoreksi apakah penampilan kita bagus atau tidak.
Kedua, Cari dan bertanyalah. Teman yg jujur dalam mengoreksi
Ketiga, nikmati kritikan. Meski tdk sesuai keinginan kita (tdk berkomentar, jgn potong pembicaraan,apalagi membantahnya, diam dan menjadi pendengar yg baik)
Keempat, syukurilah. Jgn lontarkan komentar, cukup terima kasih yg tulus kpd pemberi kritik. Raut muka penuh perhatian. Sertakan namanya dalam do'a, terutama ingat kebaikannya
Kelima, Evaluasi diri. Jujurlah kepada diri sendiri ketika menerima kritik. Jangam sibuk menyalahkan, mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain
Keenam, Perbaiki diri. Buat program perbaikan dengan sungguh-sungguh. Mintalah kepada Allah, sebab perubahan tidak terjadi tanpa izinNya. Setelah kita perbaiki diri, hal yang harus dilakukan selanjutnya dalah dengan berbalas budi terhadap orang ang memberika kritikan kepada kita. Balas budi bisa berupa hadiah, apresiasi, atau minimal berterima kasih kepada pemberi saran dan kritik terhadap kita.
Nah, sekarang apakah kita masih berpikir kritikan dan nasihat itu buruk. Kalaupun masih, Bongkar!!! Pemahaman seperti itu hanya menjadikan diri kita kaku dalam menerjemahkan zaman konterporer ini. Jadilah pejuang akhir zaman yang senantiasa istiqomah dijalanNya. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan nikmatNya kepada kita agar kita tergolong hamba yang senantiasa menjalani apa perintahnya dan menjauhi apa yang menjadi laranganNya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin
*Semoga Bermanfaat*
Makassar, 13 Juli 2017
My Hijrah My Adventure

7 komentar:

TUHAN! Kami Tidak Butuh Popularitas

Oleh IMMawan Muhammad Nursalam ( Kabid Kader Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar) Diam bukan berarti mati, bergerak belum tentu ...