Oleh Immawan Muhammad Nursalam
(Kabider Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar)
Popularitas
merupakan kata yang cukup familiar kita dengar, kata yang dapat mewakili
tantangan zaman modern ini. Dunia yang hingar bingar menjadikan kita pantas
kita katakan karang diantara beautifull fish dan lautan, dunia yang seakan
menjadi lagu pengantar yg menina bobokan manusia. Kerasnya kehidupan menuntut
kita agar mampu berpikir cerdas, akselerasi zaman harus mampu kita
interprestasikan agar mampu menempatkan diri kita tetap berada diwilayah orang
orang yang bijak.
Sejarah telah
mencatat bahwa manusia dari periode Nubuwah sampai dengan periode yg penuh
kemaksiatan ini telah berhasil mengekspresikan diri mereka sesuai kapasitas
rasio yg dimiliki, dengan hal ini pulalalah mampu menggambarkan kepada kita
sedzolim apa manusia, secerdas apa iblis serta sepatut apa malaikat dalam
menerjemahkan kehidupan yang fana ini. Bisa jadi selama ini kita hanya
terbaring kaku melihat realitas sosial yang terjadi, bisa jadi intrumens kulit,
pendengaran, penciuaman seakan gagal arah akibat otoritas akal, sehingga sadar
atau tidak sadar kita lupa esensi manusia sebagai seorang hamba yang sejati
harus bertaqarrub illallah.
Kita telah
melewati berbagai periode, mulai periode kebahagiaan masa kanak-kanak sampai
periode dimana kita di didik layaknya anak-anak (boneka di antara robotika).
Tentunya akan berbeda situasi dimasa awal kita bahagia dan sekarang yang
seolah-olah dibahagiakan. Era demokrasi telah membawa banyak perubahaan dan
kalau intelektual islam kaku dan tidak responsif atas situasi saat ini, maka
kita akan kehilangan karakter sebagai creator of change dan iron stok islam yg
akan menegakkan ajaran islam di Bumi.
Era ini
ditandai dengan kemajuan tehknologi informasi yang membuat akses mudah dan
cepat. Disatu sisi kemajuan itu telah merubah mindset berpikir dan pola
perilaku manusai akan pesatnya media sosial. Tentunya dari sekarang kita harus
mampu mempersiapkan generasi untuk melintasi zaman bukan sekedar menjalan
kehidupan ini dengan menghabiskan jatah umur.
Semakin maju zaman, maka akan
semakin tingkat peradaban dan kebidayaan manusia. Semakin tinggi otoritas
intelektual manusia, lambat laun tapi pasti manusia merasa bahwa merekalah yang
mengendalikan dan mengatur dunia, bukan agama dan bukan pula Tuhan, tpi hanya
dengan kekuatan akal manusia. Dengan akal dan nafsu pula manusia merasa
dirinyalah yang paling benar, paling pintar, cerdas dan bijaksana, meski dia
tidak pernah sadar semakin berilmu manusia maka akan semakin tunduk pada
aturan. Diskusi, musyawarah, dialog serta perdebatan menjadi hiasan tersendiri
dibalik duri yang merambat dalam tebing, kritik dan saling menjatuhkan seakan
menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Sehingga orang umunya menyatakan bahwa
saran, nasehat serta kritikan mampu menjatuhkan kemuliaan dan kewibawaan kita.
Persepsi kita
terhadap kritikan akan lebih baiik kita tanamkan dalam diri kita bhwa itu
penting. Sahabat, apa yang terlintas pikiran anda jikalau saya mengatakan
"Saya ingin mengkritik anda, siapkah anda untuk saya koreksi?".
Kira-kira bagaimana respon anda. Apakah anda akan senyum menatap saya seraya
berkata "Ohhh yeahh, of course".??? Tidak bukan, kritikan tidak
seperti itu. Namun biasa kata-kata ini seakan akan menjatuhkan harga diri kita
yang dikritik, merendahkan derajat dan lain sebagainya. Maka wajar jika reaksi
yg mncul itu sulit menerima, berkomentar serta melakukan pembelaan diri. Tentu
sangat disayangkan bukan, mengingat saran dan kritikan itu perlu untuk kita
dengarkan.
Sebaliknya
kita tawarkan kripik kepada orang yang sama, apakah dia akan memberikan respon
yang serupa??? Tentu tidak sahabat, tentunya dia akan memberikan respon yg
sempurna dengam penuh senyuman dan kebahagiaan. Tentu kebahagiaannya dan mata
berseri-seri itu pula dia mengatakan "Ohhh yeah, Thank you very much
Friends". Ohhhhh Noooo, sangat kontradiksi dengan pertanyaan yang pertama
bukan. Hal ini yang memberikan tamparan lepada saya untuk menggoreskan beberapa
kata dengan tujuannya satu, agar kita senantiasa perpikir positif terhadap
kondisi yang ada didepan mata kita.
Ya Akhi,
sebenarnya dalam proses yang kita jalani sekarang (Berikatan/Berlembaga) tidak
bisa terlepas dengan dinamika sosial dan dinamika kelembagaan yang semakin maju
zaman maka seiring itu pula semakin sulit tantangnya. Sorakan dari samping
kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah dan seluruh arah mata angin seakan
menjadi bumbu dalam kehidupan berikatan. Mulai dari kritikan yang kecil
(Personal) sampai kritikan yang bersifat kompleks (Kelembagaan), tentunya hal
ini ibarat dua mata uang logam yang sisi-sisinya memiliki makna. Dalam
berikatan sendiri sering kali kita memdapatkan cacian, kritikan pedas, di
bilang sok sucilah, perbaiki dulu diri lah, bahkan beberapa hal yang sedikit
lebihnya membuat suhu badan kita cenderung naik. Namun sebagai intelktual muda
islam yang sekaligus sebagai umat Muhammad Saw, tentunya akan berbeda dalam
memberikan respon. Mengapa tidak, Kita memiliki hak dan wewenang penuh untuk mengontrol
perasaan kita, entah mau kita arahkan ke arah yang positif atau negatif.
Allah telah menegaskan dalam
firmanNya
وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖ ۚ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ
Dan jika kamu
membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang
ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih
baik bagi orang yang sabar. [QS. An-Nahl: Ayat 126]
Rasulullah
Saw merupakan suri tauladan bagi umat manusia, jadi wajarlah dia memiliki ahlak
yang mulia. Banyaknya kritikan, saran beliau jadikan sebagai motivasi. Beliau
mampu mengevaluasi secara rasional kritik dan menegaskan tanggung jawab sebagai
seorang hamba. Sudah barang tentu kita seyogyanya mampu memgamalkan apa yang
telah Rasul kita contohkan.
Perbedaan yg
sangat signifikan antara kritik dengan kripik. Masalahnya, Kenapa hrus
munculkan hal yg berbeda padahal memiliki point yang sama untuk memenuhi
kebutuhan kita. Hal ini yang harus mampu kita benahi, mulai dari sekarang.
Karena langkah pertama kita akan menetukan langkah keseribu kita, kalau hari
ini mindset berpikir kita masih dalam kekonyolan, menganggap saran, nasehat dan
kritikan itu merendahkan, Bongkar!!! Sebab itu sama halnya kita ingin ada perubahan
dan kemajuan dalam diri kita. Rene Descartes pernah berkata bahwa "Hidup
yang tak direflesikan tak pantas untuk dijalani" dan ini serupa dengar
pandangan kaum komunis dengan teori materialisme dialektika yang mengatakan
"tidak ada kemajuan tanpa peperangan (Pertentangan)". Kalaupun kita
ingin merasakan kemajuan dalam diri kita, maka berlapang dada lah ketika ada
kritikan
😀
Dalam
menerima kritik memerlukan trik, sehingga menjadi sarana membangun kemuliaan di
sisi Allah Swt, dalam pengkajiannya Ust. Aa Gym beliau menyampaikan beberapa
trik dalam menyikapi kritikan dan saran
Pertama,
rindukan kritikan dan nasihat layaknya kita bercermin agar dapat megoreksi
apakah penampilan kita bagus atau tidak.
Kedua, Cari
dan bertanyalah. Teman yg jujur dalam mengoreksi
Ketiga,
nikmati kritikan. Meski tdk sesuai keinginan kita (tdk berkomentar, jgn potong
pembicaraan,apalagi membantahnya, diam dan menjadi pendengar yg baik)
Keempat,
syukurilah. Jgn lontarkan komentar, cukup terima kasih yg tulus kpd pemberi
kritik. Raut muka penuh perhatian. Sertakan namanya dalam do'a, terutama ingat
kebaikannya
Kelima, Evaluasi diri. Jujurlah
kepada diri sendiri ketika menerima kritik. Jangam sibuk menyalahkan, mencari
kambing hitam dengan menyalahkan orang lain
Keenam, Perbaiki diri. Buat program perbaikan dengan
sungguh-sungguh. Mintalah kepada Allah, sebab perubahan tidak terjadi tanpa
izinNya. Setelah kita perbaiki diri, hal yang harus dilakukan selanjutnya dalah
dengan berbalas budi terhadap orang ang memberika kritikan kepada kita. Balas
budi bisa berupa hadiah, apresiasi, atau minimal berterima kasih kepada pemberi
saran dan kritik terhadap kita.
Nah, sekarang
apakah kita masih berpikir kritikan dan nasihat itu buruk. Kalaupun masih,
Bongkar!!! Pemahaman seperti itu hanya menjadikan diri kita kaku dalam
menerjemahkan zaman konterporer ini. Jadilah pejuang akhir zaman yang
senantiasa istiqomah dijalanNya. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan
nikmatNya kepada kita agar kita tergolong hamba yang senantiasa menjalani apa
perintahnya dan menjauhi apa yang menjadi laranganNya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin
*Semoga Bermanfaat*
Makassar, 13 Juli 2017
My Hijrah My Adventure
My Hijrah My Adventure
Masya allah .syukron inspirasix kak .
BalasHapusBarakallahu fiikum
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMakasih kak postingan.y.
BalasHapusSemoga bisa di amalkan dek,
BalasHapus#Wazakkir
InsyaAllah.
BalasHapusInsyaAllah.
BalasHapusAmin.insya allah kak
BalasHapus